Pages

Wednesday, March 2, 2011

UMMU AISYAH RA. PROFIL WANITA CERDAS

Nama dan Nasabnya
Beliau adalah Ummul Mu’miniin Aisyah binti Al-Imam Ash-Shiddiiq Al-Akbar dan Kholifah Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-Siddiq Abdullah bin Abu Quhafah Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murroh bin Ka’b bin Luai Al-Qurasyiyyah at-Taimiyyah. Ibunya adalah Ummu Ruman bintu Amir bin Uwaiwir bin Abdu Syams bin Ataab Al-Kinaniyyah.
Kelahirannya
Aisyah dilahirkan empat tahun sebelum kenabian di Makkah. Termasuk golongan orang-orang yang dilahirkan dalam Islam.
Sifat-Sifatnya
Wanita yang paling faqih (pintar) di dunia, dan paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah SAW, dan banyak juga para shahabat dan tabi’in terkemuka yang meriwayatkan darinya. Dia adalah seorang wanita yang cantik dan berkulit putih, sehingga diberi julukan Humaira’. Tidak pernah dijumpai seorang wanita di seluruh dunia yang lebih berilmu dari beliau.
Pernikahannya dengan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW menikah dengannya sebelum hijrah sesudah wafatnya istri beliau yang pertama, Khadijah binti Khuwailid dua tahun sebelum hijrah. Dikumpuli oleh Rasulullah SAW setelah hijrah, tepatnya sepulang beliau dari perang Badar. Urwah berkata: “Aisyah berada di sisi Rasulullah SAW selama 9 tahun.” (Shahih Muslim: 1344)
Rasulullah SAW tidak pernah menikahi wanita gadis/perawan selain dia, dan beliau SAW tidak pernah mencintai seorang wanita melebihi cintanya kepada Aisyah. Dia adalah istri Rasulullah SAW di dunia dan di akhirat.
Suatu saat Rasulullah SAW bersabda kepada Aisyah: “Aku bermimpi didatangi malaikat yang membawamu dalam kain sutera dan dikatakan kepadaku: “Inilah istrimu”, maka aku buka wajahnya ternyata engkau yang ada di dalam kain tersebut.” Maka Aisyah berkata: “Jika ini datang dari Allah, maka Allah akan melangsungkan-Nya.”
Aisyah berkata: “Aku diberi sembilan perkara yang tidak pernah diberikan kepada wanita siapapun setelah Maryam binti Imron; Jibril turun dengan membawa gambarku di telapak tangannya hingga dia memerintahkan Rasulullah SAW agar menikahiku; Rasulullah SAW menikahiku ketika masih gadis dan tidak pernah menikahi gadis selainku; Rasulullah SAW meninggal dalam keadaan kepalanya di pangkuanku; Beliau dikuburkan di rumahku, dan sungguh para malaikat mengelilingi rumahku; sungguh wahyu turun kepada Rasulullah SAW ketika aku dan beliau dalam satu selimut; sungguh aku adalah putri khalifah dan putri shahabat karibnya; turun berita pembersihan diriku dari langit; telah diciptakan aku dengan baik di sisi seorang yang baik; dan aku telah dijanjikan ampunan dan rezeki yang mulia.” (Diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Ajuri dan dikatakan oleh Adz-Zahabi: Sanadnya jayyid).
Rasulullah SAW bersabda:“Keutamaan Aisyah atas seluruh wanita seperti keutamaan tsarid (sejenis makanan dari adonan tepung dicampur kuah daging) atas semua makanan.” (Muttafaq Alaih)
Turunnya Ayat Tayammum
Didalam suatu perjalanan Aisyah keluar bersama Rasulullah SAW dalam suatu rombongan, ketika mereka sampai di Baida’ atau Dzatul Jaisy hilanglah kalung ‘Aisyah sehingga Rasulullah SAW berhenti dan mencarinya dibantu oleh kaum muslimin yang ikut bersama mereka. Waktu itu mereka tidak punya air sama sekali sehingga mereka mengadu kepada Abu Bakar tentang keadaan mereka sehingga Abu Bakar memarahi putrinya, Aisyah.
Sampailah waktu sholat shubuh padahal mereka tidak memiliki air. Saat itu turunlah ayat “tayammum” yang merupakan kelapangan bagi kaum muslimin sehingga Usaid bin Khudhoir berkata: “ini bukanlah awal dari barakah kalian wahai keluarga Abu Bakar.” Ketika mereka hendak beranjak pergi, ternyata kalung tersebut berada di bawahnya (Muttafiaq Alaih).
Berita Bohong Tentang Aisyah
Peristiwa ini terjadi pada waktu perang Muraisi’, tahun 5H dan umurnya waktu itu 12 tahun, dan ada yang mengatakan pada waktu perang Bani Mushthaliq, yaitu setelah turunnya ayat hijab. Marilah kita ikuti kissah yang diriwayatkan sendiri oleh ‘Aisyah r.a. sebagai berikut:
Dari ‘Aisyah r.a ia berkata: “Merupakan kebiasaan Rasulullah SAW jika hendak melakukan perjalan jauh, beliau mengadakan undian diantara para istri beliau. Siapa yang menang undiannya, maka dialah yang berhak ikut mendampingi Rasulullah s.a.w. dalam perjalanan itu. Pada suatu ketika Rasulullah saw. mengundi kami untuk ikut mendampingi beliau dalam suatu peperangan yang di-pimpin oleh beliau sendiri. Aku beruntung, karena undianku-lah yang keluar sebagai pemenang. Karena itu akulah yang berhak pergi bersama beliau. Peristiwa ini terjadi sesudah turunya Ayat Hijab (lihat surat Ahjab, [33]:35-59). Lalu aku dinaikkan ke dalam sebuah sekedup (joli) dan diturunkan dalam setiap perhentian (tanpa aku keluar tetapi sekedupnya yang diturun-naikkan). “
“Ketika Rasulullah SAW selesai dari peperangan beliau serta rombongan pulang kembali ke Madinah (membawa kemenangan). Hampir sampai ke Madinah, beliau memberi izin seluruh pasukan untuk istirahat malam. Saat istirahat itu aku keluar dari sekedup dan berjalan menjauhi pasukan untuk buang hajat. Setelah selesai buang hajat, aku segera beranjak kembali ke pasukan. Ketika aku menyentuh dadaku terasa kalungku yang terbuat dari pemata zhafar buatan Yaman telah putus. Karena itu aku kembali mencari kalungku sehingga aku terlambat kembali ke pasukan. Sedangkan para pengawal yang bertugas menjagaku selama dalam perjalanan telah mengangkat sekedupku dan menaikkannya ke punggung onta yang kukendarai (tanpa memeriksa terlebih dahulu apakah aku ada didalam atau tidak) lalu mereka beranjak pergi.”
“Mereka mengira bahwa aku masih berada di dalam sekedup dan tidak merasakan keganjilan ringannya sekedup karena waktu itu aku masih merupakan wanita muda usia. Mereka terus berjalan menggiring untaku (tanpa aku). Aku mendapatkan kalungku kembali setelah pasukan berjalan agak jauh. Ketika aku sampai ditempat peristirahatan, kudapati di sana telah sepi. Aku memutuskan untuk tetap menunggu di tempatku semula karena aku berpendapat, bila rombongan tidak menemukanku tentu mereka akan kembali mencariku dengan harapan agar orang-orang merasa kalau dia tertinggal dan kembali menjemputnya. Ketika aku duduk beristirahat menunggu mereka di tepat itu, aku mengantuk dan tertidur.”
“Waktu itu, kebetulan Shofwan bin Mu’aththal ketinggalan pula oleh rombongan karena dia tertidur. Ketika terbangun dia segera menyusul mereka dan lewat di dekat tempatku menunggu. Ketika dia melihat sesosok tubuh sedang tidur, dia menghampiri dan mengenaliku. Dia memang sudah pernah melihatku sebelum ayat hijab turun. Aku terbangun ketika dia dengan terkejut mengucapkan kalimat istirja’ (Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rooji’uun) setelah dia mengenaliku. Dan aku segera menutup mukaku dengan jilbab (kain penutup muka). Demi Allah! Dia tidak pernah mengucapkan sepatah kalimat pun kepadaku selain kalimah istirja’ yang menyebabkan aku terbangun. Dia segera menyuruh untanya merunduk, dan aku disilahkannya menaiki kendaraan itu. Sedangkan dia sendiri berjalan kaki menuntun untanya sampai induk pasukan tersusul oleh kami, sesudah mereka berhenti istirahat dari sengatan panas tengah hari. “
“Tetapi sungguh celakalah orang munafiq yang sengaja membuat fitnah terhadap diriku mengenai peristiwa itu, yang di prakarsai oleh pemimpin mereka Abdullah bin Ubai bin Salul. Setelah kami sampai di Madinah aku jatuh sakit sebulan lamanya. “
“Sementara itu dalam masyarakat telah meluas kabar bohong mengenai diriku. Sedangkan aku tidak tahu berita itu telah meluas sedemikian rupa karena aku sedang sakit. Tetapi ada suatu hal yang merisaukanku , yaitu sikap Rasulullah saw. yang tidak memperlihatkan kasih sayang seperti biasanya kalau aku sedang sakit. Beliau pernah datang menegokku sekali, setelah memberi salam beliau bertanya, “Bagaimana keadanmu?” Itulah yang membimbangkanku. Aku tidak mengetahui sama sekali heboh mengenai diriku, sampai pada suatu hari aku diberitahu oleh Ummu Misthah tentang desas-desus omongan tukang fitnah yang memburuk-burukkan diriku. Semenjak aku mendengar berita Ummu Misthah itu, sakitku semakin menjadi-jadi.”
“Ketika Rasulullah saw. datang kerumahku, beliau memberi salam, lalu beliau bertanya, “Bagaimana keadaan sakitmu?”. Lalu aku bertanya kepada beliau, “Sudikah tuan mengizinkan aku pulang ke rumah orangtuaku?” Kata Aisyah, “Sebenarnya aku ingin hendak menanyakan kepada orang tuaku tentang kebenaran berita yang disampaikan Ummu Misthah kepadaku.” Ternyata Rasulullah SAW mengizinkanku, lalu aku pulang kerumah orang tuaku dan bertanya kepada ibuku, “Wahai ibu! Benarkah ada berita buruk yang dipercakapkan orang mengenai diriku?” Jawab ibu, “Wahai anakku sayang! Jangan engkau hiraukan. Demi Allah!, jarang sekali wanita cantik yang disayangi suaminya, padahal dia mempunya banyak madu yang tidak dibicarakan orang.” “Subhanallah!” kataku. “Kalau begitu, memang benarlah kiranya orang banyak mempercakapkanku.” Malam itu aku menangis semalam-malaman sampai Subuh. Air mataku mengalir tak dapat ditahan dan aku tak dapat tidur karenanya. “
Sementara itu, Rasulullah SAW sendiri merasa berat dengan fitnah tersebut, (karena wahyu yang menjelaskan masalah itu belum juga turun), maka beliau SAW meminta pendapat Usamah, Ali, dan Barirah, yang secara umum mereka menyatakan bersihnya ‘Aisyah dari tuduhan keji tersebut. Kemudian Rasulullah SAW meminta pendapat para shahabat tentang hal itu, tetapi karena begitu gencarnya desas-desus tersebut, maka terpisahlah kaum muslimin menjadi dua kelompok, ada yang membenarkan berita tersebut dan ada pula yang mendustakannya. “
Kata Aisyah selanjutnya, “sehari-harian kerjaku hanya menangis dan menangis siang dan malam. Sehingga kedua orangtuaku cemas, kalau-kalau jantungku pecah karena menangis. Selama aku menangis, kedua orang tuaku selalu berada di sampingku.”
“Sementara itu Rasulullah saw. pun datang. Beliau memberi salam, lalu duduk di sampingku. Sejak beita bohong itu tersiar, beliau tidak pernah duduk di sampingku. Dan sudah sebulan wahyu tidak turun kepada beliau. Yaitu semenjak peristiwa ini. Ketika beliau duduk di sampingku, mula-mula beliau membaca tasyahhud. Kemudian beliau bersabda: “Hai Aisyah! Telah sampai kepadaku berita mengenai dirimu begini dan begitu. Jika engkau bersih dari tuduhan itu maka Allah Ta’ala akan membebaskanmu. Jika engkaumemang berdosa, minta ampunlah kepada Allah Ta’ala dan tobatlah kepada-Nya. Karena apabila seorang hamba sadar bahwa dia telah berdosa, kemudian dia tobat, niscaya Allah menerima tobatnya.”
“Setelah ucapan beliau itu selesai diucapkannya, air mataku mengambang dan tak tertahankan olehku dia jatuh berderai. Aku berkata kepada ayah dan ibuku, “Abi! Ummi, tolonglah aku menjawab sabda Rasulullah.” Namun kedua beliau menjawab,” Demi Allah! Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah,”
“Maka terpaksalah aku sendiri yang harus menjawabnya. Kataku, “Aku ini adalah seorang wanita muda usia yang belum banyak mengetahui isi Al-Qur’an. Demi Allah! Sekarang aku telah tahu bahwa Anda telah mendengar berita mengenai tuduhan terhadap diriku, sehingga tuduhan itu tertanam dalam diri Anda dan tampaknya Anda seperti membenarkan berita itu. Walaupun aku mengatakan kepada Anda bahwa aku bersih dari tuduhan itu – demi Allah, hanya Allah sajalah yang maha tahu bahwa aku memang bersih – Anda tentu tidak akan mempercayaiku juga. Dan seandainya aku mengatakan bahwa aku telah bersalah dan berbuat dosa, – demi Allah, Dia jugalah yang maha tahu bahwa aku bersih, tentu Anda akan mempercayainya.”
“Demi Allah! Aku tidak memperoleh sebuah contoh pun yang paling tepat mengenai peristiwa, selain ucapan yang di ucapkan oleh Nabi Ya’kub, bapak Nabi Yusuf, katanya: “Sabar jualah yang paling indah, dan hanya Allah sajalah tempat minta tolong atas segala tuduhan yang dituduhkan mereka.’ Kemudian aku berpaling dan berbaring di tempat tidurku. Tetapi aku berharap semoga Rasulullah saw. dapat melihat dalam mimpi beliau, dimana Allah Ta’ala memperlihatkan kepada beliau bahwa aku sungguh-sungguh bersih.”
“Maka demi Allah, belum lagi Rasulullah saw. meninggalkan tempat duduknya, dan belum seorang jua pun yang keluar dari rumah kami, Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Ketika wahyu telah selesai turun, Rasulullah saw. tertawa. Kalimat yang mula-mula diucapkannya ialah:”Gembiralah, wahai Aisyah! Allah telah mengatakan bahwa engkau sungguh-sungguh bersih dari tuduhan itu.” Lalu berkata ibuku kepadaku, “Bangunlah engkau nak! Mintalah maaf kepada beliau!” Jawabku, “Demi Allah! Aku tidak perlu minta maaf kepada beliau. Aku hanya wajib memuji Allah, karena Dialah yang menurunkan wahyu yang menyatakan bahwa aku memang bersih dari tuduhan kotor itu.”
Wahyu itu tercantum dalam surat An-Nur sebanyak sepuluh ayat (QS An-Nur: 11-20) sebagai berikut:
إِنَّ الَّذِينَ جَاؤُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرّاً لَّكُم بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُم مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنفُسِهِمْ خَيْراً وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُّبِينٌ لَوْلَا جَاؤُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاء فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاء فَأُوْلَئِكَ عِندَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَوَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌإِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّا لَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّناً وَهُوَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمٌوَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُم مَّا يَكُونُ لَنَا أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌيَعِظُكُمُ اللَّهُ أَن تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَداً إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَوَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌإِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَوَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّه رَؤُوفٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Olah karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.” Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.” (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.”(16)Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman” . Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).
Meskipun Allah SWT Sendiri Yang menyatakan kesucian ‘Aisyah dari tuduhan yang keji tersebut di dalam ayat yang dibaca oleh seluruh kaum muslimin sampai hari kiamat, tetapi ‘Aisyah tetap merendah dengan mengatakan,“Sesungguhnya aku tahu kalau Allah akan menjelaskan kesucianku dari tuduhan keji tersebut, tetapi aku tidak menyangka kalau Allah akan menjelaskan perkaraku dalam wahyu yang selalu kita baca, karena sungguh kasus itu sangat cemar terasa olehku dibandingkan dengan keagungan firman Allah Ta’ala yang selalu kita baca.” (Shahih Muslim:No.2377)
Wafatnya
Beliau wafat pada bulan Ramadhan tahun 57 H atau 58 H dalam usia 63 tahun lebih sebulan dan dimakamkan di pekuburan Baqi’. Semoga Allah meridhoinya dan menempatkannya dalam keluasan surga-Nya. Amiin.

                                                                      Makam istri Rasulullah Aisyah binti Abu Bakar hanya dipasang batu


Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Azza wa Jalla. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw. beserta keluarga dan para shahabatnya.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”(QS Al-Ahzab [33]:5)

inspirasi:
Hariswan Indra.
http://cahyaiman.wordpress.com/2010/08/27/ummu-aisyah-ra-profil-wanita-cerdas/

0 komentar: