Pages

Sunday, September 13, 2015

Diktaktor, Aku Bisa Hidup Sendiri

Angin selatan sedang bigung, diungkapkan perasaannya hari ini. 


Hari ini suasana mendung
asap kayu mengepul keatas menambah kelam
hari ini suasana hati sedang gundah
tertekan oleh kondisi kehidupan yang kacau

semua ingin menang sendiri
anti kritik tak ada bicara yang nyambung

harus begini
harus begitu
datang dari semua orang dikehidupanku
seakan aku disini hanyalah makhluk kecil yang tak bisa berpikir

aku bisa tentukan hidupku sendiri
tanpa banyak perintah ini itu
diktaktor kelas kakap
melebihi keras jendral franco di spanyol
Perintah-perintahmu adalah konyol
sampaikan perintah dicampur emosi
parah, siapa yang mau menerima?


Ungkapan yang kacau, sekacau hatinya
Huahaha

Negeri Mimpinesia: Rangkap Jabatan

Orang-orang sekarang memang sudah pintar. Melek informasi semua. Tak heran Penjual Angin dan Penangkat buruk emprit tahu politik. bukan sekedar sok-sokan. Mereka lebih tau dari anak sekolahan. Macam mahasiswa yang K3. Kantn, Kuliah, Kost.

Huahaha...
Memang menarik sekali apa yang dibicarakan dua orang ini. Coba bayangkan hari gini penjual angin untuk menggelumbungkan ban yang kempes dan penangkap burung emprit bicang politik. Wah, bukan. Tak biasanya memang.

Kata penjual angin presiden mengeluarkan aturan bagi para menteri ketika sudah dilantik diwajibkan untuk melepas jabartan publik selain menteri. Ini semata-mata demi idealnya keberjalanan pemerintahan. Penjual angin menyimpulkan berarti ini tak ada jabatan rangkap untuuk orang-orang yang memegang jabatan mneterri.  

Penangkap burung pun nggak mau kalah. Dalam pikirnya bergejolak.  Dari pada koar-koar ngurus anggota DPR dari partai lain melanggar etika, lebih etis urus anggota partai sendiri yang sedang rangkap jabatan. Jadi anggota DPR  dan jadi menteri. Biarlah urusan ketua DPR dan wakilnya diselesaikan pihak terkait. Tentu partainya.

Penangkap burung heran. Kenapa PDIP begitu getol mengungkit  pelanggaran  etika tetapi berdiam diri atas pelanggaran elit politik yang rangkap jabatan. Jadi menteri dan anggota DPR. Eksekutif dan Legislatif. Dua hal yang saling bertolak tetapi melengkapi.

Sambil nambal ban bocor, penjual angin nyletuk. Itu para menteri yang rangkap jabatan sebagai anggota DPR dan  nggak mengundurkan diri melanggar UU MD3 dan UU no 29 tahun 1998.

Njuh
Pengetahuan dari mana ni si Penjual Angin dapat berkata begitu.
'
"Internet bro"
"Gue kan gaul"

Hahah dasar. Ingin tau lengkapnya searching sana, minta tolong mbah google cing.

Sambil ngelus-ngelus burung, Penangkap burung pun bercerita. Dalam UU MD3 jelas tertulis bahwa setiap anggota DPR yang sudah melalaikan tgasnya selama 3 bulan berturut-turut maka dia otomatis bukan anggota lagi.
Wa njuh....
Kepriyye iki?

Penjual angin yang sedang niup balon, terkekek.
Berarti Mbak Puan Maharani, Pak Tjahyo Kumolo, ditambah pak Pramono Anung harus mengundurkan diri ya.

"Jelas itu, "

"Penjual angin, berarti  kita ini dibodohi tapi nggak tau kalau dibodohi. "

"Lha itu tahu kalau dibodohi"

"Iya ya, berarti aku pinter hehehe"


"Dengar-dengar mbak Puan didemo untuk mengundurkan diri man. Karena dia rangkap jabatan"

Ah, itu cuma simulasi. Mbak Puan akan tetap langgeng disana.

Itu cerita antara Penjual Angin dan Penangkap Burung. Jangan mudah percaya.


Saturday, September 12, 2015

Emha Ainun Najib : Champion Of Life, Cintaku Sekonyong-konyang Koder

Ungkapan perasaan Emha Ainin Nanjib tentang Indonesia



Aku jatuh hati pada Indonesia. Tanah air alunan balada antagonis-protagonis yang harmonis. Tak peduli apakah nenek moyang mereka adalah Ibu Peradaban Dunia ataukah raja dan rakyat dungu yg bisa dijajah ditipu diperdaya oleh sekumpulan satpam VOC.
Biarin apakah mereka berasal usul dari Negeri Atlantis, Sunda Land, atau turunan Nabi Sis ketika darah istrinya dirasuki Iblis. Tidak urusan apakah sejarah manusia Nusantara lebih tua dibandingkan dengan Yunani kuno, Mesir kuno, Inka-Maya, Mesopotamia, sehingga juga jauh lebih tua daripada Ibrahim yang menurunkan Yahudi dan Arab yang kini sedang menguasai dunia.
EGP, apakah mereka sedang dilanda epidemi peracunan otak dua millenium, penipuan global yang berlangsung sejak lahirnya Isa Al-Masih, dilanjutkan 37 sesudah penyaliban beliau, serta disempurnakan tiga abad silam sesudah Revolusi Industri.
Pertengseng apakah benar "kasepuhan" nenek moyang Nusantara ini sengaja dikubur disembunyikan oleh pemenang sejarah dunia modern. Nggak patheken juga apa mbah-mbah buyut mereka dahulu kala merupakan perintis "10 pilar peradaban" biangnya peradaban pertanian bumi dan kemaritiman laut, bikin password pemindah hujan, penyusun awan, dan penolak rudal, impor logam dari Mars dan Neptunus untuk bikin keris, teknologi penerbangan frontal anti-gravitasi, penemu bahan adiksi-adiksi dari antara gunung berapi dg laut selatan, 41 level santet, yg anak-cucunya rindu trap-trap  sawah pegunungan hingga bikin piramid. Atau apapun saja.
Juga biarkan saja apakah Maha (Perdana) Menteri Gadjah Mada dengan ideologi ambeng-nya jauh lebih demokratis dibandingkan dengan "tumpeng" NKRI yang berlagak demokrasi tapi rakyatnya tak punya daya kontrol apa pun terhadap tipu daya nasional para pemimpinnya. Pun tak usah disesali kenapa Majapahit bikin bangunan keraton dari kayu, sehingga hancur luluh tenggelam oleh luapan lumpur Canggu antara Sidoarjo dan Mojokerto.
Go to hell with simpang siur sejarah. Wali Songo pun skrg semakin digugat-gugat eksistensi historisnya, karena "iman" metodologis-historis kita tidak kepada babad, legenda, folklore, atau dongeng. Toh, sekarang para EO menyibukkan masyarakat untuk menziarahi Wali Sepuluh: Wali Sembilan plus Gus Dur, sementara Hadlratus-Syaikh Hasyim Asy'ari kakek beliau dan Kiai Wahid Hasyim bapak beliau sedang dipertimbangkan apakah termasuk wali atau bukan. Bahkan biro-biro travel sudah melantik Wali Songo Jawa Timur. Jadi Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, tdk termasuk. Dicari wali-wali lain di lingkup Jawa Timur untuk disembilan-sembilankan.
Aku jatuh hati kepada Indonesia. Sebagian rakyatnya yang tidak bobrok berpendapat, Indonesia sedang bobrok-bobroknya. Kenyataannya tidaklah bobrok, karena kebobrokan tidak mengerti kebobrokan, kegelapan tidak menyebut dirinya kegelapan. Para penganut aliran kebobrokan berteriak cemas: "Bangsa Indonesia harus bangkit!" Sementara itu, yang paling bobrok berpikir sebaliknya: "Kita sudah bangkit, bahkan sedang menikmati ninabobo dunia internasional yang menganugerahi kita 'Award of Kebangkitan'."
Di fajar hari, ibu-ibu sudah siap di pasar ketika presiden masih tidur. Ada yang berfilsafat: rakyat yang baik adalah yang rajin salat subuh, yang produktivitasnya dimulai sejak sangat dini. Tapi ada yang memelesetkan: subuh itu berwarna hijau, karena subuh adalah Islam. Presiden dan pemerintah jangan rajin salat subuh, supaya wajahnya tak jadi hijau, seperti tahun-tahun terakhir Soeharto. Dunia tidak suka Indonesia berwarna hijau dan pakai peci. Untuk Indonesia, Islam mesti hijau lapuk, pemeluknya harus bodoh, kumuh, brutal, dan nutrisi rendah.
Meskipun demikian, tampil modern dan mewah boleh juga, asalkan hipokrit dan permisif. Terserah. Yang pasti, jangan suruh rakyat Indonesia bangkit. Mereka tiap hari sudah bangkit, karena tiap hari jatuh. Kejatuhan adalah parameter utama rakyat dalam mengukur setiap pemerintahan yang menimpakan kepada mereka musibah-musibah. Seberapa kadar kejatuhan rakyat pada penguasa yang ini, yang itu, di zaman kerajaan maupun republik.
Rakyat Indonesia adalah pakar kejatuhan, maka juga Pendekar Kebangkitan, yang mampu bangkit meskipun tanpa kebangkitan. Maka bernama bangsa garuda, meskipun ada yang mengejeknya sebagai bangsa emprit. Tak apa. Emprit jasadnya, garuda jiwanya. Garuda memperoleh kelahiran kedua pada usia sekitar 40 tahun dengan terlebih dulu melakukan penghancuran atas paruh dan kuku-kukunya,yang kemudian, bagi yang lulus: tumbuh paruh sejati dan kuku sejati. Sebagaimana garuda terbang ke gunung-gunung batu untuk mematuki dan mencengkeram batu-batu itu sampai paruh dan kukunya tanggal --bangsa Indonesia hari ini juga sedang riang-riangnya menghancurkan paruh dan kukunya sendiri. Garuda bangkit dan terbang, dengan 17 helai sayap dan 8 helai ekor, angka hari kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Andaikanpun Indonesia merdeka pada tanggal 1 bulan 1, ia tetap jagoan dan sanggup terbang dengan sayap sehelai.Bangsa tertangguh di muka bumi ini, sanggup bergembira dalam derita, mampu melangkah pasti di jalan ketidakpastian, ringan tertawa di kurungan rasa bingung dan sengsara.
Aku tergila-gila pada Indonesia. Bangsa yang juara atas hidupnya sendiri. Warga negara miskin antre naik haji menunggu 10 tahun lebih, tanpa pernah menawar berapa pun biayanya. Bahkan membayar di muka, tanpa peduli ke mana bunganya.
Di Tanah Suci, mereka sowan kepada Kanjeng Nabi dan mendengarkan petuah menantu beliau si penjaga pintu ilmu Sayyid Ali bin Abi Thalib: ''Wahai bangsa Indonesia, jangan katakan kepada Tuhan bahwa kalian punya masalah, tetapi nyatakan kepada masalah bahwa kamu punya Tuhan." Bangsa Indonesia punya banyak senjata untuk melawan kejatuhan dan siaga menyelenggarakan kebangkitan.
Mereka menantang kehidupan yang tidak rasional dan penuh kemustahilan dengan "bismillah".  Atas nafkah tidak mencukupi mereka bilang "tawakal". Didera keadaan serba-kekurangan terus-menerus mereka ladeni dengan "tirakat" dan keyakinan bahwa ''ayam saja dikasih rezeki oleh Allah''. Ditipu habis oleh penguasa, cukup mereka tepis dengan ''Tuhan tidak tidur''. Usaha gagal, dagang bangkrut, mereka layani dengan "istiqamah" dan "jihad fisabilillah".
Besok belum tentu makan, apalagi bayar kontrakan rumah dan terlebih-lebih lagi membiayai anak sekolah tidak membuat mereka putus asa, karena di dalam dada mereka ada "nekat". Mereka adalah champion of life. Jagoan dalam mengalahkan segala jenis kesusahan hidup. Juara penderitaan. Sanggup membangun kegembiraan dalam kesengsaraan. Petarung kesulitan. Pendobrak kemustahilan. Tertawa dalam kehancuran.

Pandai dalam kebodohan. Tidak mengenal lelah untuk terus-menerus ditipu, dibohongi, diperdaya, dan ditindas. Di negara Pancasila, mereka sangat percaya kepada Tuhan, tetapi sangat toleran kepada berhala-berhala. Di berbagai kegiatan hidup, dari keagamaan, politik, dan budaya, mereka bahkan cenderung eksploitatif terhadap berhala-berhala.
Sangat gemar bermain berhala, mengambil apa dan siapa saja sekenanya untuk diberhalakan, dipresidenkan, digubernurkan, di-Gus-kan. Esok paginya berhala itu dibuang, ganti berhala baru. Para champion of life sangat percaya diri, sehingga semau-mau mereka ambil berhala, pura-pura menyembahnya, mengaturnya, mempergilirkannya.
Rasa sayangku pontang-panting kepada Indonesia. Bangsa yang tidak menuntut kepemimpinan kepada para pemimpin. Tidak menuntut komitmen kerakyatan kepada petugas pemerintahan yang mereka upah. Tdk menagih kesejahteraan kpd pengelola tanah airnya, bahkan menyedekahkan kekayaan kepada kepala negara kepala  pemerintahan dan seluruh jajarannya.
Tidak mempersyaratkan keterwakilan kepada para wakilnya. Lahap mengunyah disinformasi yang dipasok oleh para petugas informasi. Bangsa yang tidak mengenal kehancuran. Sebab memang tidak berjarak dari kehancuran. Juga karena dalam stuktur kejiwaan mereka: antara kehancuran dan kejayaan, antara riang dengan sedih, antara maju dengan mundur, hebat dengan konyol, mulia dengan hina, pandai dengan bodoh, surga dan neraka, pada alam mental rakyat Indonesia --itu semua sama sekali bukan polarisasi, tdk bersifat dikotomis, tak berhulu-hilir, hulunya adalah juga hilirnya, hilirnya adalah jg hulunya.
Tak ada garis lurus interval. Kedua dimensi nilai-nilai itu berada dalam bulatan yang bersambung, yang kalau dipandang dari jarak tertentu: ia adalah sebuah titik. Rakyat Indonesia tidak tertindas oleh ketidakmenentuan dalam kehidupan bernegara. Republik ayo, kerajaan monggo.  Presidensial silakan, parlementer tak apa. Kalau pengurus negerinya mengabdi kepada mereka, ya, tidak dipuji. Kalau mengabdinya kepada diri penguasa sendiri, ya, dibiarkan. Kalau tidak mengabdi malah menganiaya, ya, dikutuk beberapa saat saja.
Mereka tidak terikat untuk mengingat apa yang harus diingat atau melupakan sesuatu yang harus dilupakan. Juga tidak tertekan untuk harus tahu dan mengerti sesuatu. Mau ingat apa, mau lupa apa, mau ngerti apa, terserah-serah kepentingan mereka saat itu. Sebab akurasi energi psikologis mereka mengarah ke kebahagiaan diri: ingat, lupa, dan mengerti bisa menjadi tembok penghalang utama yang membuat mereka tidak mencapai kebahagiaan secara pragmatis dan permisif.
Bahkan antara ingat dan lupa, antara ngerti dengan tidak ngerti, bisa diracik oleh jiwa manusia Indonesia menjadi sebuah kesatuan yang dibikin relatif. Kapan butuh ingat, dia ingat. Kalau yang menguntungkan adalah lupa, mereka pun lupa. Jangankan tentang isi dunia, sejarah, negara, pemerintah, penggadaian kekayaan tanah air, korupsi, dan perampokan oleh luar maupun dalam negeri: sedangkan terhadap surga sesungguhnya mereka tidak rindu-rindu amat, dan terhadap neraka mereka tidak benar-benar ngeri.
Cintaku kepadamu sekonyong-koder, Indonesia.

Inspirasi: 
1

2 Bangzul_pni