Pages

Monday, January 3, 2011

Mengurai Simpul Iman Terkuat


Sebagai mukmin tentu saja kita sangat yakin akan dien islam ini yang akan memberikan rahmat kepada seluruh alam, bukan yang lain. Kebahagiaan dan kesejahteraan akan lebih terasa apabila Islam ini ditempatkan sesuai dengan kedudukannya, yaitu dijadikan pedoman hidup oleh umat manusia. Kita juga pasti paham bahwa bahwa iman adalah urusan hati, yang berhubungan dengan keyakinan manusia. Iman akan tetap eksis pada seorang manusia jika keyakinan itu diterima  oleh hati. Pemaksaan terhadap pemerimaan ini hanya akan memambah masalah dan melahirkan manusia-manusia bermuka dua yang membahayakan dan akan menjadi musuh dalam. Oleh  karena itu Islam tidak mengajarkan pemaksaan terhadap seseorang untuk beriman Islam, tidak memaksa dan mengintimidakasi pemeluk agama lain untuk menjadi seorang muslim. Islam menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama dalam batas-batas tertentu.
Mendakwahkan Islam sebagai kebenaran harus diyakini oleh semua orang. Karena dengan dakwah itu, berarti kita benar-benar yakin bahwa yang kita yakini adalah benar.
   Yang menjadi masalah saat ini adalah mulai dimanupulasi dan dibelokannya makna dari  Rahmatan lil ‘alamin, toleransi dan tidak ada pemaksaan dalam Islam. Hal ini dijadikan dalil untuk menggiring manusia menuju kepada liberalisme, pluralisme yang mendangkalkan keimanan seseorang terhadap kebenaran. Ini adaah ulah setan dan balatentaranya dari jenis manusia.
Intinya dengan paham  liberalism dan pluralism mereka mengajarkan bahwa semua agama adalah sama, memiliki hak hidup, nilai kebenaran masing-masing dan pada akhirnya akan mengarah ke tujuan yang satu.  Tidak ada yang berhak merasa sebagai yang paling benar hingga ia  memaksakan suatu keyakinan kepada orang lain. Sebab apa yang diyakini enar oelh manusia itu benar belumlah tentu benar, yang palng benar hanyalah Tuhan.
Paham itu ibarat seperti buah kedondong, mulus kelihatannya tapi semraut isinya. Jika pemeluk agama apalagi seorang mukmin, meyakini bahwa semua agama adalah sama dan kebenarannya hanya ditangan tuhan, lantas apa gunanya kita meyakini sebuah agama? Jika demikian agama hanya akan menjadi instrument yang fungsinya tidak jauh beda  dengan partai politik. Partai apa saja yang penting jadi pejabat. Mau gonta-ganti agama pun toh akhirnya surga juga. Oleh karena itu paham ini seharusnya ditolak oleh semua pemeluk agama karena merusak dan mendangkalkan keyakinan. Sayangnya dinegara ini , paham ini justru muncul dan dipelopori oleh orang yang dianggap cendikiawan muslim.  Maka menjadi sebuah kewajaran jika, aspek yang ditekankan adalah toleransi. Akan tetapi toleransi yang diajarkan adalah toleransi tanpa batas karena didasarkan pada pemahaman “tidak ada yang paling benar”. Toleransi akhirnya mewujud menjadi sikap yang paling kompromi, tidak mempunyai resistensi dan kewibawaan, bahkan mengarah kepada sikap yang rela akan kekufuran.
Apa Sebenarnya yang Dimaui Setan?
Jika diibaratkan seekor ular, liberalism dan pluralism seperti cobra yang paling berbisa. Terhadap iman seseorang muslim, racun paham ini akan mengurai simpul iman terkuat. Bukan lain adalah simpul cinta karena Allah dan benci karena Allah. Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya ikatan iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah” (HR.Ahmad)
Cinta dan benci karena Allah adalah mencintai atau membenci sesuatu yang memang dipperintah oleh Allah untuk dibenci atau  dicintai. Simpul inilah yang membedakan mana mukmin dan mana yang kafir, membentuk  karakter dan identitas, menyatukan orang-orang beriman dalam satu ikatan iman sekaligus memisahkan dan membedakan mereka yang kafir dan mereka yang beriman. Iman dan orang –orang yang beriman adalah sesuatu yang wajib dicintai, sedang kufur dan orang-orang kafir adalah sesuatu yang harus dibenci, tidak diridhai dan harus diwaspadai, siapapun ia dan apapun bentuknya. Inilah mengajak kepada kesyirikan, Allah mengharamkan dan menghalalkan sesuatu, tapi kekafiran tidak menerima aturan itu, dan Allah menyuruh taat pada nabi Muhammad Saw, tapi kekafiran mengabaikannya, bahkan tak jarang mengejeknya.
Jika simpul terkuat telah lepas, sedikit goncangan akan mampu melepas simpul-simpul yang lain dan ridha terhadap kekufuran adalah kekufuran. Meskipun benci tersebut tidak mesti berwujud terror, intimedasi dan pemaksaan. Ada tata aturannya dalam adab-adab amar makruf nahi mungkar.
Mukmin yang Tidak Mukmin
Kika simpul itu telah terurai, maka kita akan menyaksikan manusia yang mengaku beriman tapi tak lagi memiliki keprbadian dan identitas muslim. Tidak mampu membedakan mana lawan mana kawan. Tidak memiliki keberpihakan yang jelas dalam masalah iman. Penentang dalam segala tindak kekufuran malah dianggap sebagai perbuatan tidak bertoleransi dan sikap memaksakan keyakinan.
Disebut “mukmin” karena dia meyakini sepenuh hati bahwa kebenaran hanya ada pada syariat Allah yang diturunkan kepada Nabinya. Tidak pada yang lain. Jika tak lagi yakin, masih pantaskah menyandang gelar  “mukmin”?
Dan, jika ada yang merasa senang dan bertepuk tangan dengan munculnya manusia-manusia seperti ini, mungkin setanlah oknumnya. Sebab, setan tidak hanya telah berhasil melepas imannya, tapi juga memiliki balatentara dalam barisannya.
Wallahu a’lam bishawab.

Inspirasi
Arrisalah juli 2009

0 komentar: