Pages

Showing posts with label tuk rasa tuk cinta. Show all posts
Showing posts with label tuk rasa tuk cinta. Show all posts

Thursday, June 23, 2016

Puisi Gus Mus : Bila Kutitipkan

BILA KUTITIPKAN

Bila kutitipkan dukaku pada langit
Pastilah langit memanggil mendung

Bila kutitipkan resahku pada angin
Pastilah angin menyeru badai

Bila kutitipkan geramku pada laut
Pastilah laut menggiring gelombang

Bila kutitipkan dendamku pada gunung
Pastilah gunung meluapkan api. Tapi

Kan kusimpan sendiri mendung dukaku
Dalam langit dadaku


Kusimpan sendiri badai resahku
Dalam angin desahku

Kusimpan sendiri gelombang geramku
Dalam laut pahamku

Kusimpan sendiri.

Saturday, February 7, 2015

Sekolah Stand Up Comedy

Assalamu'alaykum
Sebagai orang sosial rasanya gatal saja ketika tidak ikut mengkritisi apa yang layak untuk dikritisi. 
Iya gatalnya tuh disini (sambil pegang dada). Jadi ikutan alay nih aku. Hahaha

Fenomena stand up comedy memang sedang booming hari ini. Genre baru comedy yang dimana kita dilihatkan dengan sudut pandang comic dalam melihat berbagai hal. Yang aku suka dari standup comedy selain lucunya ya... pasti , kritik sosial yang terkandung didalamnya.

Walau kritik tersebut kebanyakan tidak mempan, tapi ini membawa sudut pandang baru kita terhadap suatu hal.

Belakangan ini, 
Murid-murid aku lagi gandrung dengan nih acara. Banyak dari mereka yang ngikutin gaya para comic ketika sedang ngomong.  
Contoh mereka buat kata sapa baru, "what up, what down. Habluminallah, habluminannas" 
Gaya khas uus ya... 
Kalau ini gayanya dodit mulyanto yang diubah hahaha
"Thok (sambil kethok meja)
Tau nggak ini nada
..hahaha pasti banyak yang nggak tau kan, itu nada thok, untuk mengetuk hati kamu, biar jadi akhi dan ukhti yang soleh dan solehah"

Sebagai orang sosial aku itu selalu mengamati,memperhatikan, aku terawang sambil curi curi dengar. Ternyata tingkat kegandrungan mencapai tingkat akut. Gimana enggak coba, disetiap mulai pelajaran mereka sering nagih untuk diceritakan. Nagihnya itu juga beraneka ragam. Sesuai dengan gaya mereka masing-masing , ada manja, ada yang diam memelas, ada yang alay bahkan ada yang kaya dept colector ngejar ngejar tukang kredit, eh salah seperti ngejar-ngejar para pengutang yang nggak mau bayar utang.

Aku jadi berpikir ini, sekolah ini kan smpitsc singkatan dari smpit smart cendekia , kalau diteruskan ini sekolah  mungkin suatu saat akan ganti jadi
SmpitSC , SMPIT Stand Up Comedy hahaha

Sekian (lambaikan tangan)

Thursday, December 25, 2014

Kebanggaan Terang

Tertarik nafas penanda bosan
Bertindak tak tunduk
Mengacau laku
Merusak pikir
Meracun yang lain

Rusak ...
Bobrok ...
Kotor ...
Seram ...

Aneh
Sungguh terlihat aneh
Kau terlihat bangga dengan itu semua
Tertepuk dada
Bersorak sorai
atas apa yang kau punya

Habis ..
Apakah sudah habis
Kebaikan-kebaikan yang engkau lakukan
Mau jadi apa???
Ketika engkau hanya bertahan dalam langkah kebanggaan suram

Bangkitlah dan berubahlah ...
Capai kebanggaan terang

Wednesday, March 2, 2011

Boleh Cinta, Jangan Cinta Buta

“Seseorang sejalan dan sealiran dengan kawan akrabnya, maka hendaklah kamu berhati-hati dalam memilih kawan setia.” (HR. Ahmad)
Maha Agung Allah yang telah menganugerahkan jiwa-jiwa persaudaraan buat seorang mukmin. Ada kebahagiaan tersendiri ketika hidup dengan banyak teman dan saudara seiman. Mungkin, itulah di antara bentuk keberkahan.
Namun, tidak semua pertemanan berujung kebaikan. Perlu kiat tersendiri agar niat baik pun menghasilkan yang baik.
Mengenali teman dengan baik
Islam adalah agama yang santun. Seperti itulah ketika Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa mendahului salam. Mendahului salam sangat dianjurkan Rasulullah saw., kepada yang kita kenal atau belum: “…berilah salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang belum kamu kenal.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Dari salam inilah hal pertama yang bisa didapat dari calon teman adalah muslimkah dia. Paling tidak, ada gambaran sejauh mana tingkat keislaman orang itu. Karena seorang muslim yang baik paham kewajiban menjawab salam.
Setelah saling berbalas salam, jalinan perkenalan dirangsang dengan mengenalkan diri si pemberi salam terlebih dahulu. Dari situlah tukar informasi diri berlangsung lancar. Dan senyum merupakan ungkapan tersendiri yang mensinyalkan rasa persaudaraan dan perdamaian. Rasulullah saw. bersabda, “Jiwa-jiwa manusia ibarat pasukan. Bila saling mengenal menjadi rukun dan bila tidak saling mengenal timbul perselisihan.” (HR. Muslim)
Namun, satu momen perkenalan itu jelas belum cukup. Butuh interaksi secara alami. Setelah itu, waktu dan jumlah pertemuanlah yang menentukan. Apakah perkenalan berlanjut pada persaudaraan. Atau sebaliknya, sekadar kenal saja. Dan keinginan kuat untuk bersaudara mesti diutamakan dari sekadar kenal. Terlebih persaudaraan karena jalinan iman dan takwa.
Allah swt. mengisyaratkan itu dalam surah Al-Hujurat ayat 13. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Walau pada tingkat persaudaraan, perkenalan bukan berarti sesuatu yang sudah usai. Karena kehidupan manusia tidak diam. Ia selalu bergerak, berubah, dan berganti. Termasuk pada sikap dan karakter. Boleh jadi, seseorang bisa terheran-heran dengan perubahan teman lama yang pernah ia kenal. Karena ada yang beda dalam fisik, sikap, karakter, bahkan keyakinan.
Perubahan-perubahan itulah menjadikan seorang mukmin senantiasa menghidupkan nasihat. Mukmin yang baik tidak cukup hanya mampu memberi nasihat. Tapi, juga siap menerima nasihat. Dari nasihat itulah, hal-hal buruk yang baru muncul dari seorang teman bisa terluruskan.
Seperti itulah firman Allah swt. dalam surah Al-‘Ashr ayat 1 sampai 3. “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya mentaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.”
Mewaspadai dampak buruk seorang teman
Buruk sangka dalam pertemanan memang tidak dibenarkan Islam. Tapi, ketika ada fakta-fakta yang menyatakan tidak bagusnya seorang teman, dan nasihat sudah tidak lagi ampuh, kewaspadaan mungkin jadi jalan terakhir. Karena tidak tertutup kemungkinan, keburukan bisa menular. Paling tidak, agar tidak kecipratan air busuk temannya.
Rasulullah saw. bersabda, “Kawan pendamping yang saleh ibarat penjual minyak wangi. Bila dia tidak memberimu minyak wangi, kamu akan mencium keharumannya. Sedangkan kawan pendamping yang buruk ibarat tukang pandai besi. Bila kamu tidak terjilat apinya, kamu akan terkena asapnya.” (HR. Bukhari)
Mewaspadai tidak berarti memutus pertemanan buat selamanya. Apalagi menyebar hawa permusuhan dan kebencian. Karena boleh jadi, sifat buruk bisa berubah baik. Sebagaimana, baik menjadi buruk. Kontribusi sebagai seorang teman mesti terus mengalir. Paling tidak, dalam bentuk doa.
Berhati-hati mencintai seseorang
Cinta tidak melulu antara laki dan wanita. Ada cinta lain yang berwarna persaudaraan dan pertemanan. Karena ikatan suku, profesi, sekelompok orang bisa saling mencintai. Begitu pun dalam ikatan persaudaraan Islam. Rasulullah saw. mengatakan, “Tidaklah beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
Umumnya, cinta punya rumus: saling kenal, saling paham, saling cinta, dan saling berkorban. Tapi, ada cinta yang datang tiba-tiba. Mungkin karena ada sesuatu yang menarik dari penampilan fisik, cinta langsung berbunga. Atau, karena ada seseorang yang begitu murah hati dan dermawan, cinta bisa langsung tumbuh pesat. Ada utang budi yang berinti cinta. Kalau sudah begitu, pengorbanan menjadi sesuatu yang amat ringan.
Kalau orang yang cepat dicintai itu memang layak dicintai, simpati dan pengorbanan tentu akan berbuah kebaikan. Tapi, bagaimana jika yang tiba-tiba dicintai itu punya maksud tidak baik. Karena kelihaian, atau karena sudah jadi profesi, cinta bisa dimanipulasi menjadi alat efektif melakukan penipuan.
Karena itu, Rasulullah saw. mewanti-wanti dalam mencintai seseorang. Cinta bisa menghilangkan daya kritis dan rasionalitas seseorang. Beliau saw. besabda, “Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Berteman dan bersaudara memang menjadi sebuah kenikmatan tersendiri buat seorang mukmin. Pertemanan seperti itu tidak hanya bermanfaat di dunia, tapi juga di akhirat. Begitulah sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya Allah pada Hari Kiamat berseru, ‘Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini akan Aku lindungi mereka dalam lindungan-Ku, pada hari yang tidak ada perlindungan, kecuali per-lindungan-Ku.” (HR. Muslim)

INSPIRASI: 
Muhammad Nuh
http://www.dakwatuna.com/2008/boleh-cinta-jangan-cinta-buta/

Mawaddah “Unlimit Love”

Terinspirasi ketika belajar ushul fiqh bersama guru saya, pada waktu itu pembahasannya tentang qarinah, tapi kemudian guru saya sekilas bertanya, kecintaan seorang ibu kepada anaknya apakah al hubb atau mawaddah? Kecintaan seorang suami kepada istrinya yang tetap setia bertahun-tahun hidup bersama, tanpa melihat fisik apakah al hubb atau mawaddah?
Kecintaan Rasulullah saw ketika mendakwahi umatnya yang susah diajak berpikir apakah al hubb atau mawaddah? Awalnya, saya fikir maknanya sama saja yaitu cinta, diantara dua kata yang berasal dari bahasa ‘arab tadi.
Ternyata salah, itulah kedalaman bahasa ‘arab memiliki makna luas dan bermakna. Al hubb dan mawaddah ternyata sangat jauh berbeda.
Al hubb adalah cinta yang memiliki batas waktu untuk mencintai sesuatu, apakah itu cinta kepada manusia atau benda. Dan mudah berpindah jika menemukan yang lebih besar manfaatnya bagi dia.
Al hubb bisa kita lihat faktanya saat ini, mencintai tanpa ada rasa tanggung jawab dan kotmitmen terhadap yang ia cintai.

Perceraian marak sekali terjadi, durhaka anak kepada ibunya, putusnya tali silahturahmi antara keluarga, saling bermusuhan antara tetangga satu dengan yang lain dll. Karena standarnya adalah cinta atas dasar maslahat sehingga berdampak akan mudah sekali hilang cintanya jika dia tidak menemukan mashlahat terhadap yang ia cintai.
Mawaddah adalah cinta yang unlimit atau tidak terbatas sampai kapanpun. Inilah kecintaan yang dimiliki oleh seorang ibu terhadap anaknya.
Cintanya seorang ibu akan hidup sampai kapanpun tidak terbatas tempat, waktu, dan usia anak.
Begitu juga cintanya sepasang suami istri yang sudah hidup berpuluh-puluh tahun namun masih tetap cinta, masih tetap sayang, masih tetap akan merasa bahagia jika bersama, ada kerinduan yang besar ketika tidak bertemu walaupun usia sudah tua tapi rasa cinta seperti itu masih ada, walaupun dari fisik pasangannya mungkin sudah tidak enak dilihat lagi.

 Pernah melihat? kakek nenek yang datang kepengajian, mereka sambil berpegangan tangan dan terlihat sangat bahagia padahal usia mereka sudah sangat tua dan mereka sudah hidup berpuluh-puluh tahun lamanya tapi seakan-akan mereka baru menikah kemarin-kemarin. Itulah cinta yang tidak ada batasnya.
Menarik kisah pada genarasi sahabat, kisah ini terjadi pada saat pemerintahan ‘Umar Amirul mukminin r.a. ada seorang arab badui yang akan mengadukan istrinya kepada ‘Umar karena istrinya telah mengeluarkan suara keras melebihi suaranya.
Iapun kemudian pergi ke rumah Amirul Mukminin ‘Umar bin Khatab r.a. dan ketika dia sampai di depan pintu rumah Amirul Mukminin dia mendengar langkah kaki ‘Umar yang hendak keluar dari rumahnya. Dia mendengar istri Amirul Mukminin berkata kepadanya dengan suara yang keras mengatakan: “bertaqwalah kepada Allah, wahai ‘Umar atas apa yang engkau pimpin!
‘Umar hanya diam dan tidak berbicara sedikitpun, orang badui tersebut berbicara dalam hatinya seraya berpaling pergi: “Jika keadaan Amirul Mukminin saja seperti ini, maka bagaimana dengan diriku?” Ketika ia hendak berpaling pergi, ternyata ‘Umar bin khatab telah keluar dan melihatnya. ‘Umar bertanya apa keperluanmu?, wahai saudaraku orang Arab?”
Orang arab badui itupun menjawab: “Wahai Amirul Mukminin sebenarnya aku ingin menemuimu untuk mengadukan sikap istriku. Dia telah berani bersuara keras terhadap diriku. Namun seketika aku melihat keadaan rumahmu, aku menjadi merasa kerdil, karena apa yang engkau hadapi lebih sulit daripada apa yang aku hadapi. Oleh karena itu, aku hendak pulang dan berkata pada diriku sendiri: “Jika Amirul Mukminin saja mendapat perlakuan seperti itu dari istrinya, maka bagaimana dengan diriku?”
Umar pun terseyum dan berkata: “Wahai saudaraku semuslim, aku menahan diri dari sikapnya (istriku) itu, karena dia memiliki hak-hak atas diriku. Aku berusaha untuk menahan diri meski sebenarnya aku bisa saja menyakitinya (bersikap keras) dan memarahinya. Akan tetapi, aku sadar bahwa tidak ada yang dapat memuliakan wanita selain orang yang mulia dan tidak ada orang yang merendahkan selain orang yang suka menyakiti. Mereka dapat mengalahkan setiap orang yang mulia namun mereka dapat dikalahkan oleh setiap orang yang suka menyakiti. Akan tetapi, aku angat ingin menjadi orang yang mulia meski aku kalah (dari istriku), dan aku tidak ingin menjadi orang yang suka menyakiti meski aku termasuk orang yang menang.”
‘Umar melanjutkan : “Wahai saudaraku orang Arab, aku berusaha menahan diri karena dia istriku memiliki hak-hak atas diriku. Dialah yang memasak makanan untukku, membuatkan roti untukku, menyusui anak-anakku, dan mencuci baju-bajuku. Sebesar apa kesabaranku terhadap sikapnya, maka sebanyak itulah pahala yang aku terima.”
Saya membaca kisah yang penuh makna ini berkali-kalipun sangat terasa indah dan sejuk (halah..), bagaimana tidak?
Saya tidak tepikirkan, bagaimana perhatian negara Islam yang begitu besar untuk mengurusi umatnya termasuk masalah rumah tangga, luar biasa. Disisi lain, sikap seorang pemimpin besar semisal ‘Umar yang kalau kita ketahui sifat ‘Umar adalah keras dan kasar, tapi bisa menahan diri dari bersikap kasar dan lebih memilih bersikap lembut kepada istrinya yang beliau cintai. Itulah cinta mawaddah ‘Umar kepada istrinya.
Kalau saya melihat sekarang, seperti pekejaan rumah tangga pastinya istri manapun ada saatnya untuk berkeluh kesah, setiap hari kerjaan utamanya adalah masak, mengusrus anak, cuci baju suami dan anak-anaknya, beres-beres rumah, mendidik anak, memantau anak, ini itu setiap hari dan memang seperti itu kerjaan utama seorang istri.
Kalau ukurannya hanya sekedar cinta (al hubb) saya yakin istri tersebut akan setiap hari ngomel kepada suaminya untuk minta pembantu, atau mungkin bisa kabur (terlalu mendramatisir..) ,tapi isrti yang cinta kepada keluarga atas landasan iman dan kecintaannya adalah mawaddah semuanya akan ditangkis dengan kalimat, “Itulah jihad saya dan Allah ‘azza wa jalla akan memberikan surga kepada seorang istri yang baik dalam pengurusan rumah tangganya”
Saya jadi teringat kisah fathimah binti muhammad r.a. yang mengadu kepada ayahnya sebagai pemimpin negara islam agar diberikan seorang pembantu untuk membantu pekerjaan rumah tangganya, kemudian salah satu nasehat yang Rasulullah saw berikan kepada fathimah adalah :
Nabi berkata kepada puterinya, Fathimah:
“Kalau Allah menghendaki wahai Fathimah, tentu lumpang itu akan menggilingkan gandum untukmu. Akan tetapi Allah menghendaki agar ditulis beberapa kebaikan untukmu, menghapuskan keburukan-keburukan serta hendak mengangkat derajatmu
wahai Fathimah, barangsiapa perempuan yang menumbukkan (gandum) untuk suami dan anak-anaknya, pasti Allah akan menuliskan untuknya setiap satu biji, satu kebaikan serta menghapuskan darinya setiap satu biji satu keburukan. Dan bahkan Allah akan mengangkat derajatnya.
Wahai Fathimah, barang siapa perempuan berkeringat manakala menumbuk (gandum) untuk suamiya. Tentu Allah akan menjadikan antara dia dan neraka tujuh khonadiq (lubang yang panjang).
Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan mau meminyaki kemudian menyisir anak-anaknya serta memandikan mereka, maka Allah akan menuliskan pahala untuknya dari memberi makan seribu orang lapar dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.
Wahai Fathimah, bilamana seorang perempuan menghalangi (tidak mau membantu) hajat tetangganya, maka Allah akan menghalanginya minum dari telaga “Kautsar” kelak di hari Kiamat.
Wahai Fathimah, lebih utama dari itu adalah kerelaan suami terhadap istrinya. Kalau saja suamimu tidak rela terhadap engkau, maka aku tidak mau berdo’a untukmu. Apakah engkau belum mengerti wahai Fathimah, sesungguhnya kerelaan suami adalah perlambang kerelaan Allah sedang kemarahannya pertanda kemurkaan-Nya.
Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan mengandung janin dalam perutnya, maka sesungguhnya malaikat-malaikat telah memohonkan ampun untuknya, dan Allah menuliskan untuknya setiap hari seribu kebaikan serta menghapuskan darinya seribu keburukan. Manakala dia menyambutnya dengan senyum, maka Allah akan menuliskan untuknya pahala para pejuang. Dan ketika dia telah melahirkan kandungannya, maka berarti dia ke luar dari dosanya bagaikan di hari dia lahir dari perut ibunya.
Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan berbakti kepada suaminya dengan niat yang tulus murni, maka dia telah keluar dari dosa-dosanya bagaikan di hari ketika dia lahir dari perut ibunya, tidak akan keluar dari dunia dengan membawa dosa, serta dia dapati kuburnya sebagai taman diantara taman-taman surga. Bahkan dia hendak diberi pahala seribu orang haji dan seribu orang umrah dan seribu malaikat memohonkan ampun untuknya sampai hari kiamat. Dan barangsiapa orang perempuan berbakti kepada suaminya sehari semalam dengan hati lega dan penuh ikhlas serta niat lurus, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan kepadanya pakaian hijau (dari surga) kelak di hari Kiamat, serta menuliskan untuknya setiap sehelai rambut pada badannya seribu kebaikan, dan Allah akan memberinya (pahala) seratus haji dan umrah.
Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan bermuka manis di depan suaminya, tentu Allah akan memandanginya dengan pandangan’rahmat’
Wahai Fathimah, bilamana seorang perempuan menyelimuti suaminya dengan hati yang lega, maka ada Pemanggil dari langit memanggilnya”mohonlah agar diterima amalmu. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu maupun yang belum lewat”.
Wahai Fathimah, setiap perempuan yang mau meminyaki rambut dan jenggot suaminya, mencukur kumis dan memotongi kukunya, maka Allah akan meminuminya dari ‘rahiqil makhtum dan sungai surga, memudahkannya ketika mengalami sakaratil maut, juga dia hendak mendapati kuburnya bagaikan taman dari pertamanan surga, serta Allah menulisnya bebas dari neraka serta lulus melewati shirat”.
Semoga kecintaan kita selalu dilandasi keimanan kepada Allah ‘azza wa jalla.[]
Wallahua’lam bi ash shawab 

inspirasi:
Shinta mardhiah alhimjarry Guru HSG el Dina Bandung

http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/mawaddah-unlimit-love.htm

Saturday, November 6, 2010

TAK KUAT GODAANNYA???

Percaya tidak?
Ternyata hampir setiap saat, bila kita tergolong manusia dengan mobilitas tinggi, kita akan sering menghadapi pemandangan-pemandangan yang membuat gerah disatu sisi. Namun di sisi lain terkadang kita justru menganggapnya sebagai sebuat "kenikmatan".

Beberapa diantara kita, para lelaki, ketika melihat aurat wanita yang terbuka -entah secara langsung atau tidak sengaja, atau melalui gambar-gambar- maka reaksi yang ditimulkan ada dua macam. Pertama, menganggap seagai perangkap setan, sehingga sesegera mungkin menundukkan pandangan dan beristighfar: astaghfirullah. Kedua, memandang terus tak berkedip dengan alasan sayang untuk dilewatkan.

Ya, itulah godaan berat bagi para laki-laki yang ingin ber-ghadhul bashar, ditengah aurat wanita yang berseiweran. Namun, bukan berarti seorang wanita tidak kesulitan menjaga sosok wanita yang berusaha untuk menjaga kehormatan dirinya. Fitrah wanita yang ingin selalu kelihatan cantik dan menarik terkadang menjadikan mereka rela mengumbar aurat untuk menunjukan exsistensi diri atau dengan dalih kebebasan berekspresi. Entah itu pada saat berhadapan dengan sesamanya maupun lawan jenisnya.
Sebuah perasaan ingin terlihat anggun dan menawan dihadapan manusia yang lain. Namun demikian, Islam menberikan solusi yang indah. Jika ingin tampil cantik dan menarik, sepasang mata suamimulah yang lebih berhak untuk memandang. saudariku???

Disaat itulah,  segala aurat yang engkau tampakkan, segala lekuk tubuh yang terlarang untuk kelihatan, justru menjadi aliran pahala yang menyejukkan pandangan dan menentramkan jiwa. Rasulullah Saw bersabda:
"sebaik-baiknya wanita ialah kalau memandangnya bisa menyenangkan, kalau kamu diberi bagian ia bisa menerimanya, dan kalau kamu pergi ia akan menjaga dirinya dan menjaga hartamu" ( HR. Nasa'i)


Ternyata, tidak ada yang bebannya lebih berat daripada yang lain. Bagi laki-laki, godaan beratnya adalah ketika mellihat begitu baynya aurat wanita yang berseliweran di depan matanaya. Sedangkan bagi wanita, godaan beratnya yaitu untuk tidak tampil secara vulgar dan tabarruj (berhias secara berlebihan). Apalagi sampai menyebabkan kerusakan moral kerena memamerkan auratnya dihadapan laki-laki yang bukan suami atau mahramnya. 

Fenomena ingin tetap kelihatan cantik dan menarik terkadang menyebabkan seseorang wanita apatis. Ia merasa penutup aurat yang diperintahkan oleh Allah menjadi penghalang baginya untuk mengekspresikan diri. Sehigga, ada yang tidak pede memakai jilbab. Mereka lebih pede memakai rok mini, baju dan celana ketat, kaos kecil yang seharusnya dipakai adiknya, atau baju dengan bagian punggung sengaja dibolong, baju yang belum sempurna jahitannya (maka, saat berdiri bisa terlihat pusarnya, saat jongkok atau merunduk kelihatan . . . . nya)


Maka dari itu semua, perlu ditanamkan dalam diri akan pentingnya menutup aurat. Mungkin sulit untuk awalnya, tapi lama-kelamaan  engkau akan terbiasa. Allah Mahatahu dan Maha Adil, Dia pasti akan menghargai kesungguhannya yang telah engkau lakukan.




inspirasi:
Fadlan Al-Ikhwani

Friday, October 29, 2010

Andai Seorang Wanita Itu Datang . . . .

Andai seorang perempuan datang kepadamu ketika kau sendirian. . .
Andai seorang perempuan datang dan tersenyum mesra memandangmu...
Andai seorang perempuan datang duduk di sebelahmu membiarkan bahu dan punggungnya bersentuhan denganmu...
Andai seorang perempuan datang menanyakan tentang bentuk badannya kepadamu...
Andai seorang perempuan datang menanyakan tentang kecantikan wajah dan badannya kepadamu...
Andai seorang perempuan datang tanpa segan kepadamu...
Andai datang waktu itu, apakah tindakanmu?
MUNGKIN PADA PANDANGAN PEREMPUAN ITU,
"Kau adalah kawan karibku."
"Kau dah seperti abang kandungku."
"Kau dan aku bukan alim sangat jadi tak perlu hipokrit."
"Kaulah kekasihku, diri ini sepenuhnya milikmu."
"Aku tahu kau dan aku takkan mungkin berzina, kita pasti pandai mengawal diri."
"Oh, kau adalah bakal suamiku, aku harus berlatih dari sekarang mengurangi rasa malu".
"Ku berbuat begini tiada yang tahu, kau takkan cerita pada orang lain."
TETAPI WAHAI LELAKI, ADAKAH SELALUNYA BETUL PANDANGAN MEREKA ITU?
Andai seorang perempuan itu datang...
Dan hanya dirimu pengawal gelanggang...
BERANIKAN dirimu untuk MENEGUR
GAGAHKAN dirimu untuk BERUNDUR
TABAHKAN dirimu untuk menjadi LELAKI YANG UNGGUL!

Lelaki yang hormat pada hak bakal suami perempuan itu nanti,
Lelaki yang hormat pada maruah kaum ibu dan adik beradik perempuannya sendiri,
Lelaki yang takkan disogok dengan benda-benda free,
Lelaki yang punya jati diri, menegur kerana TAK MAHU ISTERINYA NANTI BEKAS-BEKAS LELAKI,
Insaflah wahai diri yang bernama lelaki,
Andai seorang perempuan itu datang...
Beranikanlah diri untuk menolak dengan matang...
Andai seorang perempuan itu datang...

Inspirasi:
iluvislam.com

Thursday, July 22, 2010

Simpan Itu , untuk yang Halal Bagimu

“telah tertulis atas anak Adam nasibnya dari zina. Akan bertemu dalam hidupnya, tidak bisa tidak. Maka kedua mata, zinanya adalah memandang. Kedua telinga , zinanya berupa menyimakdengarkan. Lisan, zinanya berkata. Tangan, zinanya menyentuh. Kaki zinanya berjalan. Dan zinanya hati adalah ingin dan berangan-angan. Maka akan dibenarkanhal ini oleh kemaluan, atau didustakannya.” (HR Muslim, dari Abu Hurairah)

Di tempat ini, kembali kembali kita mengingat hadist tentang zinanya masing-masing anggota badan. Kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya mendengarkan, lisan, tangan , kaki, dan seterusnya. Ada konsumsi dari masing-masing pintu yang dapt memacu zina itu. Tentu kita berharap pada Allah untuk menghindarkan kita dari hal ini selamanya. Kalau yang kau tebar adalah riasan dan pesona, sementara aku belum berhak atasnya makakuharap itu bukan untukku. Ya, suguhan indra pemicu zina tu, kuharap bukan untukku, bahkan kuharap tak pernak ada pada dirimu.

Bantu aku menjaga mataku
Mata adalah jendea ha ti dan kurir zina. Betapa banyak bencana akibat mata yang tak terduga. Dan betapa banyak bencana akibat mata tak terjaga. Dan betapa cerdas si iblis, yang menyediakan banyak alternative untuk mengisi retina hati dengan pandangan memabukkan berupa cara berhias dan bertingkah laku jahili. Menatap perilaku dan kelincahan memang membahagiakan. Melihat engkau berhias cantik, pasti menbuat aku tertarik. Memandangmu…., walau selalu…, kata seorang penyanyi, takkan pernah tumbuh jemu dihatiku.
Astaghfirullah, seharusnya kebahagiaan, ketertarikan , dan ketidakjemuan itu tak perlu hadir jika iamenghadirkan nyala neraka dipelupuk. Engkau lebi tahu bagaimana menjaga dirmu dari mataku. Bantu kau menjaga mata ini, agar kita selamat sampai akhir nanti.
Bantu aku menghindari kebisingan syahwat
Telinga adalah gua yang nyaman bagi syeithan. Disana ada gendering syahwat yang denga mudah ditabuh dan di perdengarkan. Aku tak pernah mengatakan dalam hatiku ada penyakit. Tetapi datingnya sakit kadang tak dikehendaki. Jangan katakana “ah itukan tergantung orangnya. Kalau orangnya ngeres sih apa saja juga bisa bikin nafsu!” jangan kau katakana itu. Bukankah kau tahu, meski laki-laki tampak alim dan suci, ada syaithan super ngeres yang bisa hinggap dimana pun ia suka. Bantu aku agar syaithan ngeres itu tahu, kita tidak pernah bisa terjerumuskan, selamanya.


Bantu aku menjaga kebisingan indra pembau
Jangan lupakan hidung. Allah dan rasulNya telah memberikan aturan yang indah. Ya, hadis ini bukan memvonismu, tetapi memvonis mereka, wanita-wanita yang suka berparfum ria.
“wanita mana saja yang memakai haruaman kemudian keluar dan lewat dimuka orang banyak agar mereka mendapati baunya, maka dia adalah penzina…” (HR Abu Dawud dan At Tirmidzi)
ilmu kesehatan masa ini pun jelas menyebutkan, bahwa ada sebuah indra pemicu ketertarikan terhadap lawan jenis yang letaknya di hidung.
Kulitku sangat peka
Kulit adalah tempat indera perasa. Jika tak dijaga, banyak rasa yang akan hinggap kemudian meninggalkan kesan disana. Rasa yang bisa menerbangkan kesucian diri dan menanggalkan pakaian malu…hingga yang tersisa tak lebih baik daripada tusukan jarum besi yang menyala di kepala.
“Sungguh, jika kepala salah seorang dari kalian dicerca dengan jarum besi yang menyala, adalah lebih baik daripada menyentuh perempuan yang tiada halal baginya” (HR Ath Thabrani dan Al Baihaqi)
Apakah kenangan persentuhan kulit mudah dilupakan? Kalau jawabannya tidak, kita jadi tahu betapa berbahayanya ia dalam rentang waktu kedepan terhadap angan dan pikiran. Tetapi kalau jawabannya ya, pasti si penjawab ini sudah sering melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar sentuhan hingga kulitnya tak lagi peka. Bantu aku, agar jarum besi yang menyala itu tak pernah hadir dalam kehidupan kita, sejak detik ini sampai nanti ketika kita divonis di pengadilan Allah Yang Maha Tinggi.

Dari uraian diatas betapa sangat banyak cara yang dilakukan oleh syeithan untuk memperdaya uamat manusia yang ada dibumi ini. Untuk tidak tergoda semua tergantung pada diri kita, maka takutlah kepada Allah dan jangan turuti hawa nafsumu karena betapa berbahanya gadaan syeithan yang akan menjerumuskan kita kedalam keburukan. Tetapi jika jika masih berada dalam zona yang disukai syeithan itu, maka bersegeralah tinggalkanlah masa lalu, mohon anpun kepada Allah dan bertaubatlah. Dan ketika kita belum menemukan yang halal bagi kita, maka simpanlah itu dari orang-orang yang belum pasti menjadi pendamping kita. Jangan biarkan diri kita melanggar larangan Allah dan mengundang murkaNya

inspirasi: buku ust. salim

Wednesday, July 21, 2010

Engkau Begitu Wangi, Wahai Al Miski

Memilih penjara disbandingkan kenikmatan dunia seperti yang dilakukan nabi Yusuf as bukan tindakan bodoh. Ada lagi kisah pilihan dari orang terdahulu yang tampak lebih bodoh. Kisah tentang seorang pemuda Abu Bakar Al Miski namanya. Dia dijuluki Al Miski (si kasturi) karena tubunya selalu menebar aroma wangi yang sangat harum dan khas. Apa yang memyebabkan belau selalu wangi setiap saat? Ternyata bukan karena minyak wangi seperti yang kebanyakan kita pakai. Abu BAkar Al Misky tidak padahal tidak pernah memakai minyak wangi misk sejak bertahun-tahun yang lalu.
Beliau pun bercerita asal mula bau wangi yang selalu melekat di badannya. “ Dahulu pernah ada wanita yang tak berakhlak, dia menipu dan memperdayaku sehingga aku terpaksa masuk kedalam rumahnya. Setelah itu ia tiba-tiba menutup pintu rumahnya, dan berusaha menggoda serta merayuku. Saat itu aku binggung sekali. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk bisa keluar dari rumah itu.
Akhirnya aku dapat penyelesaian yang kurasa agak keterlaluan. Kukatakan padanya, Ijinkan aku pergi ke WC sebertar…. Wanita itu kemudian memanggil pembantunya dan memerintahkan mengantarku ke WC. Ketika sampai di WC, aku mengambil kotoran dan mengoleskannya keseluruh tubuhku. Aku kembali ke perempuan itu dengan tubuh dan pakaianku yang penuh dengan kotoran. Ia kaget sekali. Seketika itu juga ia memerintahkan pembantunya untuk mengeluarkanku dari rumahnya. Alhamdulillah, segala puji bagiNya. Aku pun pulang dan membersihkan tubuhku yang penuh dengan kotoran.
Pada malam harinya aku bermimpi mendengar suara, “ Ya Abu Bakar, engkau melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan orang selainmu. Mulai sekarang akan Kujadikan tubuhmu selalu harum didunia dan akhirat.” Begitulah, mulai saat itu tubuhku selalu mengeluarkan bau wangi haruman minyak misk, dan itu berlanjut sampai sekarang.”
Abu Bakar Al Miski telah mencontohkan, setelah sebelumnya Rasulullah ‘Alaihi Wa Salam memberi jaminan :
“(salah satu diantara tujuh orang yang diberi naungan Allah pada hari kiamat dimana tiada naungan kecuali naunganNya adalah) seorang pemuda yang digoda untuk berzina denagan seorang wanita yang berpangkat lagi jelita namun ia menolakNya dan berkata, “Saya takut kepada Allah! (HR Al Bukhari dan Muslim)

Mari lengkapilah harapan kita akan surga dengan salah satu kuncinya yaitu: rasa takut kepada Allah dan mencegah diri dari keinginan nafsu.
“ Dan adapun orang yang takut akan kebesaran Allah dan menahan dirinya dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)" q.s an naazi'aat 40-41


by: Hery Wijaya
inspirasi buku dari ust salim