Pages

Showing posts with label TOKOH INSPIRASI. Show all posts
Showing posts with label TOKOH INSPIRASI. Show all posts

Wednesday, April 18, 2018

Serba-serbi 63 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA)

1) Hari ini 18 April 2018, memperingati hari Konferensi Asia Afrika (KAA) yang ke-63 tahun. “Hari lahirnya Negara-negara Asia-Afrika baru” begitu penutup pidato sang proklamator
2. "Bangsa-bangsa dan negeri-negeri kita bukan jajahan lagi. Sekarang kita bebas, berdaulat dan merdeka." - Ir. Soekarno dalam Pidato "Lahirkanlah Asia Baru dan Afrika Baru" untuk Konferensi Asia-Afrika 1955 

3. Peringatan Konferensi Asia Afrika ke - 63






Saturday, April 8, 2017

Soekarno-Hatta ( Perjalanan Dua Orang Sahabat Beda Ideologi Namun Satu Tujuan)

  • Hatta dan Soekarno

    Kalau menyebut Soekarno, pasti mutlak akan menambahkan dengan kata Hatta dibelakangnya. Sebaliknya pun begitu. Keduanya seperti senyawa. “Soul mate”, kata orang menjuluki. Soekarno tanpa Hatta, seperti ban tanpa mobil. Mobil tanpa ban, ya nggak ada gunanya juga. Seperti Hatta tanpa Soekarno. Begitu senyawanya hubungan kedua orang itu, hingga menjadi satu individu : SOEKARNO-HATTA. 




  • ***** DIKENALI

    Tak banyak diantara kita yang ingin tahu, kapan sebenarnya Mohammad Hatta bertemu Soekarno pertama kali. Mereka diperkenalkan bukan dalam sebuah sekolah/institusi atau ketemu di jalan. Ataupun ngobrol kebetulan lagi antri, sambil tukar kartu nama atau pun saling barter nomor telepon. Mereka bertemu secara maya melalui argumentasi perang kata dalam berbagai tulisan. Meski beda watak dan pembawaan, ekspresi mereka sama: anti penindasan. Bukan kemerdekaan! Lho kok? Soal ini mereka beda mata angin. “Pendidikan rakyat dulu, baru merdeka”, pendapat Hatta. “Oh tidak! Merdeka dulu baru pendidikan”, Soekarno ngotot. “Jalan Bung (Hatta) akan tercapai kalau hari kiamat”, tegas Soekarno memberi alasan. Analoginya, kabur dulu dari penjara. Masalah pakai baju atau tidak, mau lari kemana, setelah itu makan apa, itu urusan nomor 17. Yang penting, kabur dulu! Merdeka. Keduanya sama-sama benar. Yang salah siapa? Ya kita sekarang! Kenapa nggak mau pinter-pinter meski sudah merdeka dibebaskan Soekarno Hatta sebagai bangsa, Indonesia!

    Hatta bertemu pertama kalinya dengan manusia yang bernama Soekarno di Bandung. Dia diantar oleh seorang nasionalis yang juga kawan Soekarno pada tahun 1933. Masa itu mereka lagi getol-getolnya melawan penindasan dengan ketajaman berpikir. Pertemuan itu membuat mereka berada dalam satu perahu, tapi lain pemandangan. Hatta memandang ke kanan, Soekarno ke kiri, tapi perahu tetap ke depan. Kearah kebebasan bangsa.

    Soekarno sangat memerlukan Hatta dan begitu sebaliknya. Waktu pulang dari pembuangan di Bengkulu tahun 1942 (sebelumnya di Flores), tak ada yang menjemput Soekarno di Pasar Ikan, sebuah pelabuhan kapal kayu di Jakarta. Dengan pertolongan seorang nelayan, Soekarno minta dipanggilkan Anwar Tjokroaminoto, yang memang bekas iparnya. Anwar itu saudara kandung Utari, istri pertama Soekarno, yang juga putri dari pejuang Haji Oemar Said Tjokroamninoto. Lalu Soekarno juga minta dipanggilkan Mr. Sartono, pengacara yang pernah membelanya melawan penguasa kolonial di pengadilan yang tak adil di Bandung beberapa tahun lalu. Tapi ada satu orang lagi yang dimohon Soekarno untuk datang menjemput, ya Hatta.


  • Bahkan ketika Jumat pagi hari tanggal 17 Agustus1945, Soekarno yang sedang demam meriang sambil tidur-tiduran di kamarnya, hanya menunggu Hatta untuk membacakan naskah Proklamasi. Untungnya Hatta orang yang super-super disiplin, jadi dia datang tepat waktu. Nggak kebayang kalau Hatta molor dan baru datang pukul 1 siang. Alasan ngantuk atau ketiduran misalnya (saat itu bulan puasa dan Hatta pulang pagi abis begadang menyusun naskah Proklamasi). Kalo Hatta telat datang, detik-detik bersejarah proklamasi kita mungkin bukan pukul 10, tapi pukul 1 siang, sesuai datangnya Hatta. Begitu pentingnya Hatta bagi Soekarno. ***** DIKENCINGI

    Hari Rabu, 8 Agustus 1945, dr. Soeharto, dokter kesayangan Soekarno, mendapat perintah dari majikannya. “To, besok kita pergi ke luar negeri. Sama Bung Hatta!”, ajak Soekarno. Sang dokter panik dan ketakutan. Hari gini ke luar negeri? Pikir dr. Soeharto yang gundah dengan ajakan yang penuh bahaya, di saat Indonesia masih menjadi teater perang antara Jepang dan Sekutu. “Kemana?”, tanya dokter penasaran. “Rahasia. Pokoknya ke luar negeri”, jawab Soekarno singkat.

    Esoknya, Soekarno, bersama Hatta dan KRT Radjiman Wediodiningrat (saat itu tokoh senior dalam gerakan kemerdekaan), juga dr. Soeharto pergi menemui Marsekal Hisaichi Terauchi, panglima tentara Jepang yang menguasai Asia Tenggara.
  • Mereka berempat ke Dalat, markas Terauchi, dipinggiran kota Saigon (sekarang Ho Chi Minh City), Vietnam, dalam rangka pembentukan sebuah badan yang mempersiapan kemerdekaan.
  • Tanggal 13 Agustus 1945, mereka kembali ke Jakarta dengan mampir ke Singapura terdahulu, menggunakan sebuah pesawat pembom bermesin ganda. Tanpa kursi. Tanpa toilet. Yang ada cuma kursi untuk tiga orang di belakang pilot. Dinding pesawat pun bolong-bolong bekas terkena peluru tentara Sekutu, sehingga bisa membekukan orang bila sedang di udara.

    Nah, dalam perjalanan ke Singapura itu, Soekarno kebelet mau pipis. Wah, gawat! Gak ada toilet atau apa saja deh yang bisa dijadikan ‘toilet darurat’. Terpaksa, Soekarno melepas hajat kecilnya yang nggak bisa ditahan lagi, dekat lubang yang bolong dibagian belakang pesawat. Angin pun sedang bertiup kencang di atas ketinggian udara. Byuuuur… air seni Soekarno nyiprat kemana-mana, dan butir-butiran halus air seni itu tamplas terkena tiupan angin kencang yang mengenai Hatta dan penumpang lain. 

  • ***** DINIKAHKAN

    Kalau saja Hatta itu perempuan atau sebaliknya Soekarno seorang perempuan, mungkin mereka berpacaran dan menikah. Sebuah perumpamaan untuk melukiskan hubungan yang mesra seirama tapi tetap berbeda. Ya beda, dua orang yang berasal dari kultur sosial jauh saling berseberangan. Soekarno luwes (kalo mau nggak dibilang genit) sama wanita. Hatta sebaliknya, kaku dan bisa merah mukanya bila berhadapan dengan wanita, apalagi yang manis sebaya.

    Saking kakunya dengan lawan jenis, Hatta yang tersita pikiran cemerlangnya untuk kebebasan Indonesia, lupa dengan perempuan. Mikirin pacaran intens saja tidak, apalagi berumah tangga. “Nanti saja deh kalau Indonesia sudah merdeka”, kata Hatta kalau ditanya kapan menikah.

    Akhirnya Indonesia merdeka juga. Tanda-tanda Hatta mau melirik perempuan belum nampak. Sekitar sebulan setelah dia dan Soekarno memerdekakan Indonesia, Soekarno kepikiran juga dengan partnernya, yang akhirnya bersedia menepati janji nikahnya. Hatta sudah punya incaran gadis, tapi kurang berani untuk melamar.
  • Pada menjelang tengah malam di kota Bandung yang diselimuti udara dingin, Soekarno kebetulan sedang di kota itu. Jarum jam menunjuk angka 11. Artinya sudah larut untuk ukuran Bandung kala itu. Orang pun sudah siap bermimpi pulas di tempat tidur. Tiba-tiba saja, Soekarno mengajak sahabat karibnya dr. Suharto, untuk pergi ke rumah keluarga Abdul Rahim. Rumahnya kalo sekarang di Jalan Pajajaran no 11. “Malam begini bertamu?”, tanya sang dokter keheranan. “Nggak apa-apa. Mereka kenalan lama saya sejak dulu”, jawab Soekarno enteng. Dokter Suharto masih penasaran diajak bertamu larut malam. Pasti ganggu tuan rumah, pikirnya Apalagi saat itu tentara Jepang masih berkeliaran yang mencekam warga. Sepertinya ada yang kepepet untuk dibicarakan Soekarno dengan pasutri Abdul Rahim. “Tentang Bung Hatta”, akhirnya Soekarno menjelaskan alasannya bertamu malam-malam kerumah orang. Waktu Hatta bersama Soekarno meninjau Institut Pasteur di Bandung, Hatta kesemsem dengan seorang gadis yang bekerja disitu. Gadis itu setelah diselidiki Soekarno, ternyata anaknya pasutri Abdul Rahim. Namanya Rahmi. “Ya, Hatta memilih anakku sendiri”, ujar Soekarno yang sudah mengental kenal lama orangtua Rahmi.

    Begitu Soekarno mengetuk pintu dan berdiri didepan rumah, Ibu Rahim (ibunda Rahmi) segera keluar. Prat! Soekarno didamprat tuan rumah! Iyalah, malam-malam kok ganggu orang mau tidur, apalagi orang Bandung masih ngeri kalo-kalo yang datang itu tentara Jepang. Maklum, Indonesia baru sebulan merdeka. Jadilah Ibu Abdul Rahim, sebagai warga negara Indonesia pertama yang mendamprat Presiden Republik Indonesia! Kebetulan sekali saya berteman dengan cicitnya yang cantik dari Ibu Rahim, si ‘wanita pemberani’ itu.

    Setelah memeluk Ibu Rahim, Soekarno menjelaskan kedatangannya. “Saya melamar Rahmi untuk Hatta”, katanya. Akhirnya Soekarno dipersilahkan menemui yang bersangkutan di kamarnya. Soekarno berbincang serius secara singkat dengan Rahmi. Namun sebelum Soekarno masuk ke kamar, adik kandung Rahmi, Titi, mencegahnya. “Jangan mau, dia (Hatta) jauh lebih tua dari kamu”.

  • Hatta beda usia 24 tahun dengan Rahmi. Titi kelak jadi istri Soebijakto, KSAL 1974-1978 dan juga ibunda dari koreografer Jay Soebijakto.

    Sebelum pamit, Soekarno memeluk hangat Rahmi dan Titi, dua gadis yang sudah seperti anaknya sendiri. Bagai kisah HC Andersen, akhirnya Hatta menikahi Rahmi bulan November 1945 di vila Hatta yang sejuk di Megamendung, Jawa Barat, hanya disaksikan keluarga dekat, dan sahabat sejatinya, Bung Karno dan Fatmawati. Nah, untuk pertama kalinya Presiden RI menjadi mat comblang. “Aku adalah satu-satunya kepala negara yang juga menjadi calo dalam mengatur perkimpoian”, kata Soekarno yang juga menjodohkan Ir. Rooseno, teman kuliahnya yang mendapat julukan Bapak Beton Indonesia, serta serentetan daftar orang yang ingin menunggu dijodohkannya. ***** DIJAUHI

    Hatta dan Soekarno seperti koin bermuka ganda. Satu tapi beda. Kenyataan ini sudah diketahui publik dan Soekarno sendiri sering menggembar-gemborkan pertentangan antara mereka. Tapi bukan perbedaan sebagai sahabat dan pribadi. “Hatta sering tidak seirama denganku”, kata Soekarno menilai sahabat kentalnya. Perbedaan dalam pandangan politik itu, kian lama menggunung dan mudah dilihat orang. Hasilnya, Hatta tak mau lagi mendampingi Soekarno menjadi nakhoda Indonesia. Hatta mundur sebagai Wakil Presiden pada akhir tahun 1956. Padahal meski berbeda, Hatta menyukai Soekarno. Buktinya, ketika ibukota Indonesia pindah ke Jogjakarta, Hatta lebih senang ikut Soekarno dan membiarkan PM Sutan Sjahrir sendirian di Jakarta. Padahal Sjahrir dan Hatta banyak se-ide, bahkan se-kampung.

    Sejak Hatta mundur, Soekarno berjalan sendirian. Tak ada lagi orang sebagai “second opinion-nya” Soekarno. Dan ini secara perlahan mengantarkan Soekarno ke ujung jalan akhir kekuasaannya. Hatta makin menjauhi Soekarno dan menghiasi keretakan itu dengan tulisan dan opini yang kritis pedas kepada sahabatnya. Kritik santun untuk menuntun sahabatnya agar berjalan sesuai idealisme yang pernah mereka bangun bersama. Pernah sebuah majalah keagamaan dilarang terbit Soekarno, karena memuat tulisan Hatta yang mengkritik Soekarno. Sejak itu Dwitunggal menjadi Dwitanggal. Berakhirlah Dynamic-Duo yang pernah dimiliki Indonesia.
  • Tapi sekali lagi, mereka tidak berpisah sebagai sahabat. Sebagai pribadi mereka tetap berkawan akrab. Dengan sangat elegan, mereka berdua bisa membedakan wilayah pribadi dan wilayah politik. Beda jauuuuh dengan kita sekarang.

  •  **** DIHORMATI
    Begitu hormatnya Soekarno dengan Hatta, dia memerintahkan pengawal kepresidenan untuk tetap menjaga keselamatan keluarga Hatta, meski tidak lagi sebagai Wakil Presiden. “Jaga Bung Hatta baik-baik”, pesan Soekarno kepada kepala pengawalnya, Mangil Martowidjojom setelah Hatta mundur.

    Bila Hatta sakit, Soekarno sigap membesuknya dan kadang bercengkrama di rumah Hatta di Jalan Diponegoro, yang cuma 25 meter jaraknya dari rel kereta api. Bahkan sering Soekarno pamit dulu ke Hatta, bila ingin berkunjung ke luar negeri. Saling hormat kedua orang ini, menular sampai ke keluarga. Kedua keluarga mereka sudah seperti sedarah, padahal belum ada pernikahan antara anggota keluarga mereka.

    Ketika Soekarno sudah tak berdaya, Hatta-lah yang mewakili keluarga Soekarno untuk urusan keluarga, seperti pernikahan. Hatta juga yang membela mati-matian Soekarno yang sudah tiada, bila ada pemutar balikan sejarah yang sering dilakukan ‘sejarawan pesanan’, yang mencoba ‘membunuh’ atau menghilangkan peran Soekarno dalam drama sejarah Indonesia. Suatu hari, pernah Hatta menulis kesaksian alibi sejarah di atas kertas bermaterai, untuk membela sahabatnya itu. Hatta sosok tegas yang lembut super sopan. “Bung Hatta orangnya tenang tapi menghanyutkan”, komentar Guntur tentang sahabat ayahnya itu.

    Julukan yang mereka dapat pun aneh dan unik: PROKLAMATOR. Tidak pernah akan ada orang Indonesia dapat predikat itu. Pahlawan nasional bisa membludak. Presiden dan Wakil Presiden akan membengkak jumlahnya. Tapi Proklamator, hanya punya SOEKARNO dan HATTA (ada juga sih ‘proklamator lain’ di Indonesia, seperti upaya separatis kemerdekaan di beberapa daerah Indonesia). Lucunya, gelar itu baru diberikan secara resmi oleh pemerintah, 41 tahun setelah Indonesia merdeka. “It’s too late”, kata orang. “Ngapain aja pemerintah selama ini?”, begitu segelintir komentar.

    Hatta dan Soekarno ibarat malam dan siang. Beda, Tapi dua-duanya berguna.
  • Sumber: 
  • 1
  • Sandiwara Pemuda 

Thursday, April 6, 2017

BAMBANG PURNOMO:KISAH SEORANG LOYALIS SOEKARNO

 
Dialah salah seorang loyalis Sang Proklamator, Soekarno. Bambang Purnomo, seorang mantan petarung di berbagai palagan. Bersenjatakan bambu runcing ia pernah menyambangi posisi pasukan Sekutu di Ambarawa. Pendidikan militernya ia dapatkan bersama sang kakak Bambang Sugeng - kelak menjabat Gubernur Militer hingga KSAD periode 1952-1955. Lepas PETA dilikuidasi Jepang, ia kemudian mengorganisir para laskar dan pemuda disekitaran kampung kelahiranya Kranggan,Temanggung, untuk mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Pernah ditugaskan untuk melatih para laskar Republik di Sumatra hingga ke Nias, dengan berjalan kaki. Petualangannya di daratan Sumatra sempat berkawan juga dengan Mayor Bejo - komandan yang cukup kontroversial kala itu.

Bahkan A.K. Gani sempat pula dikenalnya, sebagai sosok penyelundup karet mentah ke Singapura untuk ditukar dengan persenjataan yang digunakan para prajurit TNI. ** Hingga pada suatu waktu, tak begitu lama setelah peristiwa pembunuhan yang begitu sadis itu, Gerakan 30 September 1965. Ia ditangkap dan dipenjara tanpa sebab yang pasti. Lima tahun ia menghuni jeruji besi, hingga dibebaskan tanpa rehabilitasi. Ketika ditangkap ia tengah menjabat sebagai perwira logistik di Mabes AD. Dalam kesaksianya ia hanyalah seorang loyalis sekaligus Soekarnois. Meski dipenjara tak membuat ia menjadi pendendam.
Ia terima dengan segala adanya sebagai seorang loyalis. Dan ia lakukan tanpa penyesalan. Kini di usia yang kian renta, ia hanya mampu terkulai, tersiksa tubuh yang kian renta, atau barangkali hanya menunggu malaikat maut menghampirinya. Dan ia merupakan laki-laki yang selalu berpegang teguh pada prinsip dan kesetiaan. Bambang Purnomo, meski renta tak sedikitpun semangatnya pudar. 


 Foto : koleksi keluarga Bambang Purnomo.

BUNG KARNO MEMINTA FATWA PADA KH. WAHAB

Setelah beberapa kali diadakan perundingan untuk menyelesaikan Irian Barat dan selalu gagal, Bung Karno mendatangi Kiai Wahab Hasbullah di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Bung Karno menanyakan bagaimana hukum orang-orang Belanda yang masih bercokol di Irian Barat?

Kiai Wahab menjawab tegas,”Hukumnya sama dengan orang yang ghasab.” “Apa artinya ghasab, kiai?” Tanya Bung Karno "Ghasab itu istihqaqu maalil ghair bighairi idznihi. Artinya, menguasai hak milik orang lain tanpa izin,” terang Kiai Wahab. “Lalu bagaimana solusi menghadapi orang yang ghasab?” “Adakan perdamaian,” tutur Kiai Wahab.

Lalu Bung Karno bertanya lagi,”Menurut insting Kiai, apakah jika diadakan perundingan damai akan berhasil?” “Tidak.” “Lalu, mengapa kita tidak potong kompas saja Kiai? Bung Karno sedikit memancing. “Tak boleh potong kompas dalam syariah,” kata Kiai Wahab.

Selanjutnya Bung Karno mengutus Soebandrio mengadakan perundingan yang terakhir kali dengan Belanda untuk menyelesaikan konflik Irian Barat.

Perundingan ini akhirnya gagal. Kegagalan ini disampaikan Bung Karno kepada Kiai Wahab. ”Kiai, apa solui selanjutny menyelesaikan Irian Barat?” “Akhodzahu qohron (ambil dengan paksa!).” Kiai Wahab menjawab dengan tegas. “Apa rujukan Kiai memutuskan masalah ini? “Saya mengambil literatur Kitab Fath al-Qarib dan syarahnya (al-Baijuri).” Setelah itu, barulang Bung Karno membentuk barisan Trikora (Tiga Komando Rakyat). Kisah yang dinukilkan dari buku Karya Intelektual Ra’is Akbar dan Ra’is Aam al-Marhumien Pengurus Besar Nahdlatul Ulama karya KH A Aziz Masyhuri ini menunjukkan antaralain kontekstualisasi kitab kuning yang oleh sebagaian kalangan justru dianggap sebelah mata.



Sumber:

Wednesday, August 31, 2016

Yoga Siratmoko, Seniman Kriya Outodidak

Yoga Siratmoko seniman kriya asal Magelang. Banyak memberikan cerita inspiratif bagi saya. Dibalik semua karyanya  tersimpan cerita tentang keuletan, ketelitian, kesabaran, pantang menyerah dan kreatifitas.

Karya Yoga sudah sering dijual ke luar negeri. Seperti Singapura, Inggris  dan Prancis. Sebelum menekuni seni kriya dia adalah seorang pelukis.Semasa menjadi pelukis Yoga sudah sering bertemu dengan perupa perupa kenamaan Indonesia. Mulai dari pelukis kanvas sampai kartunis. Yang paling nggeh ketika dia sedikit bercerita tentang Wedha. Pencipta seni popart khas Indonesia, popart aliran wedhanisme atau lebih dikenal dengan WPAP.

Didepan kami ada patung Bima Membunuh Naga buah karya yang diselesaikan dalam waktu +/- 6 bulan. Dia membuat salah satu masterpiecenya ini dengan menggabungkan berbagai jenis potongan kayu dan berbagai jenis barang yang kita anggap sebagai sampah. Patung kayu ini dibuat dengan menggunakan tiga jenis pisau pahat. Digabungkan dengan lem kayu.
Yang lebih mengesankan lagi dalam setiap karyanya dia membuat tanpa menggunakan contoh model. Semua murni hasil imaji yang langsung dia tuangkan pada media-media yang ada.
Bagi Yoga "Semakin sulit dan rumit suatu karya maka semakin asyik untuk diselesaikan"

Art is passion

Bagi yang ingin lihat karya lain yang lebih wow atau belajar (workshop) dengan Yoga Siratmoko bisa kunjungi galeri miliknya di:
"Galery Kayoe"
Jalan Abiyasa No. 19, dukuh Krajan, RT 01 RW 03, Salatiga

Salam Kreatif

#seni #art #senikriya #seniman #master #senirupa #masterpiece #magelang #jateng #jatengeksis #jatenggayeng #jatenggayeng2016 #pestarakyat #galeriseni #salatiga #pahat

Thursday, June 23, 2016

Puisi Gus Mus : Bila Kutitipkan

BILA KUTITIPKAN

Bila kutitipkan dukaku pada langit
Pastilah langit memanggil mendung

Bila kutitipkan resahku pada angin
Pastilah angin menyeru badai

Bila kutitipkan geramku pada laut
Pastilah laut menggiring gelombang

Bila kutitipkan dendamku pada gunung
Pastilah gunung meluapkan api. Tapi

Kan kusimpan sendiri mendung dukaku
Dalam langit dadaku


Kusimpan sendiri badai resahku
Dalam angin desahku

Kusimpan sendiri gelombang geramku
Dalam laut pahamku

Kusimpan sendiri.

Sunday, May 22, 2016

Soekarno dan Politik Etis

Politik etis melahirkan generasi pembaca dan pemikir. Penjajah terpaksa memberikan pendidikan karena ingin mendapatkan tenaga kerja yang terdidik tapi murah. Maka dibangunlah pendidikan praktis. Dalam pendidikan praktis peserta didik hanyalah diberikan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan kolonial tanpa pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih komprehensif.  Tapi dalam politik etis melahirkan kontradiksi yang tak sesuai dengan harapan pemakainya.


Dari pendidikan praktis yang diniatkan untuk mendapat tenaga murah malah  memunculkan orang-orang yang kritis, memberontak dan melawan. Soekarno, adalah contoh hasil kontradiksi itu. Dia dengan pemikirannya, dia dengan tindakannya adalah kontradiksi politik etis.

Sebagai wujud kontradiksi-kontradiksi politik etis Soekarno tidak asing dengan penjara dan pembuangan. Salah satu pledoinya yang terkenal yaitu Indonesia menggugat. Menggambarkan bagaimana Indonesia seharusnya. 

Friday, April 22, 2016

Jamie Vardy in WPAP

Jamie Vardy dan fenomena Leicester City`



Jamie Richard Vardy lahir di Sheffield, Inggris, 1 November 1987  adalah seorang pemain sepak bola asal Inggris. yang bermain untuk Leicester City, dan berposisi sebagai striker.

Ia tak kenal takut ketika berada di lapangan, tapi tetap tenang di setiap situasi. Tak ada yang bisa membuatnya gentar,

Lebih istimewa lagi yaitu tentang pencapaiannya memecahkan rekor Ruud van Nistelrooy di Premier League, dengan selalu mencetak gol di 11 pertandingan beruntun.

Sunday, November 1, 2015

Tribute To Pak Raden: Legenda Dongeng Multimedia


Drs. Suyadi biasa dikenal dengan Pak Raden. Seorang legenda Dongeng Multimedia. Biasa bercerita sambil menggambarkan ilustrasinya lewat deskripsi-deskripsi sederhana dalam goresan tintanya. Harinya senantiasa mengisi keceriaan masa kecil anak-anak negeri. Karya-karya fenomenal banyak dilahirkannya. 

Legenda Selalu Fenomenal

Thursday, September 3, 2015

Maulwi Saelan Sang Ajudan Terakhir Bung Karno



Lahir di Makasar, 8 Agustus 1926. Dia adalah pengawal setia presiden Soekarno. Pertempuran membela negeri sudah dimulai sejak era perang kemerdekaan, Agresi Milter Belanda I dan II.  Maulwi Saelan kemudian mengikuti sekolah militer hingga menjadi komandan Batalyon  Pomad Para berpangakat Mayor. Pomad Para adalah satuan polisi militer yang berkemampuan terjun payung.
Tahun 1962 Letnan Kolonel Maulwi Saelan dipanggil ke Jakarta untuk membentuk Resimen Tjakrabirawa. Pasukan elite terdiri dari gabungan empat angkatan yang bertugas menjaga keselamatan presiden Soekarno. Mauli Saelan pertama kali betugas sebagai Kepala Staf Resimen Tjakrabirawa  kemudian menjadi wakil komandan dengan pangkat Kolonel.

Maulwi Saelan sangat dekat dengan Soekarno. Beliau menilai presiden Soekarno sebagai sosok pemimpin egaliter dan menghargai bawahan. Presiden Soekarno seorang yang jujur dan blak-blakan. Beliau selalu berpikir sekarang untuk seabad kemudian. Maulwi Saelan sebagai ajudan juga tahu dimana gaji presiden. Presiden Soekarno  menyimpan gajinya di Bank Indonesia. Uangnya untuk negara. Presiden Soekarno sangat dekat dengan presiden Amerika Kennedy.  Menurut Letkol Saelan, bung Karno tidak tahu persoalan apa-apa tentang G30SPKI. Beliau berkata “kita bukan komunis, kami adalah nasionalis.”

Setelah peristiwa G30SPKI kekuasaan presiden Soekarno dipreteli oleh jenderal  Soeharto. Resimen Tjakrabirawa kemudian dibubarkan. Letkol Maulwi Saelan pernah dipenjara Orde Baru tanpa proses  pengadilan selama 4 tahun 8 bulan karena menolak memberikan kesaksian palsu bahwa Bung Karno terlibat G30SPKI. Maulwi Saelan ditahan di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, Jakarta Pusat. Kemudian selama setahun ditahan  di Rumah Tahanan Nirbaya, Jakarta Timur. Maulwi Saelan oleh Kopkamtib sengaja ditempatkan diruang isolasi agar tertekan. Selama seminggu dibuat tersiksa, ketika hujan kehujanan, ketika panas kepanasan.  Kahausan dan kelaparan dia rasakan. Setelah ditahan lebih dari lima tahun, Maulwi Saelan dipanggil  ke kantor petugas militer. Dinyatakan bebas begitu saja. Dipenjara tanpa peradilan, dibebaskan tanpa peradilan. Beliau dibebaskan bersama Mayjen. Mursyid (mantan dubes RI di Filipina-red) dan beberapa kawan pengawal presiden Soekarno lainnya. Beliau diantar menggunakan mobil  pick-up. Setelah bebas dari penjara, Mauli Saelan diberhentikan dari dinas kemiliteran dengan pangkat terakhir kolonel.


Maulwi Saelan juga dikenal sebagai pemain sepak bola handal.Beliau  kiper terbaik yang dimiliki oleh Indoneisa. Menjadi Kapten Timnas Indonesia era 1950-an. Bergabung dengan timnas tahun 1954-1958 dan berkontribusi besar mengantarkan Indonesia menembus semifinal Asian Games 1954 dan meraih medali perunggu Asian Games 1958. Dia kiper timnas saat Indonesia menahan Uni Soviet imbang 0-0 di olimpiade 1956 di Melbourne. Pernah menjadi ketua PSSI 1964-1967.