Pages

Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Thursday, June 23, 2016

Puisi Gus Mus : Bila Kutitipkan

BILA KUTITIPKAN

Bila kutitipkan dukaku pada langit
Pastilah langit memanggil mendung

Bila kutitipkan resahku pada angin
Pastilah angin menyeru badai

Bila kutitipkan geramku pada laut
Pastilah laut menggiring gelombang

Bila kutitipkan dendamku pada gunung
Pastilah gunung meluapkan api. Tapi

Kan kusimpan sendiri mendung dukaku
Dalam langit dadaku


Kusimpan sendiri badai resahku
Dalam angin desahku

Kusimpan sendiri gelombang geramku
Dalam laut pahamku

Kusimpan sendiri.

Wednesday, October 21, 2015

BUYA HAMKA: Mencari Ilmu


Carilah ilmu sebanyak-banyaknya.
Karena semakin kau cari semakin kecil yang kau punya.

Jika kau merasa cukup dengan yang kau punya.
Coba lihat tingginya kesombongan yang termiliki.
Mungkin perasaan cukupmu, disebabkan olehnya.

Jika kau enggan mencari ilmu. Kau hanya akan terbelenggu Dalam kebodohan. 

Jika kau enggan merasakan Sempitnya kehidupan carilah ilmu. Kapan pun. Dimana pun. Sampai akhir hayatmu.

Subur Tirani Ditanah Kami



KESEWENANGAN
BERTINGKAH SEKEHENDAK SENDIRI
MENYUBURKAN TIRANI DITANAH KAMI

APA YANG ADA PIKIRAN ADALAH HUKUM
APA YANG DILAKSANAKAN ADALAH KEMENANGAN

TAK ADA KATA ORANG LAIN YANG BISA MENGHENTIKAN
KATANYA HANYA HUKUM RIMBA YANG BERLAKU
SIAPA YANG KUAT DIA YANG MENANG
SIAPA MELAWAN
BERSIAPLAH NYAWA MELAYANG

DITANAH KAMI
KEBENARAN TAK BERARTI JIKA HANYA DIMILIKI ORANG KECIL
BEGITU SEBALIKNYA
SUATU KESALAHAN BISA MENJADI KEBENARAN JIKA DIMILIKI ORANG BESAR


Monday, October 19, 2015

PALESTINA : PERJUANGAN KAMI TIDAK MATI


KAMI TIDAK AKAN KALAH
DARI USAHA KALIAN MENGHANCURKAN KAMI

KAMI TIDAK AKAN TAKUT
DARI SERANGAN KEBRINGASAN KALIAN

KAMI TIDAK AKAN LARI
DARI KEBENGISAN KALIAN

SEMANGAT PERJUANGAN KAMI
TIDAK PERNAH MATI

Tuesday, October 13, 2015

SOLIDARITAS : SALIM KANCIL DIBUNUH


DITANAH KAMI 
NYAWA TAK ADA ARTI
LEBIH MURAH DARI PASIR TAMBANG

DITANAH KAMI
PEMIMPIN MATI HATI
MENUMBUH SUBURKAN TIRANI

DITANAH KAMI 
SALIM KANCIL DIBUNUH SADIS
OLEH MANUSIA-MANUSIA KALAP
KARENA KESERAKAHAN DAN UANG

DITANAH KAMI
KEBENARAN YANG SEHARUSNYA BESAR
JADI KECIL KARENA PEMILIKNYA ORANG KECIL
SUKANYA PENGUASA 
TAK SETUJU  "YA, DIMATIKAN"


#KEADILANUNTUKSALIM KANCIL
#SALIMKANCILDIBUNUH
#SALIMKANCIL

MELAWAN ASAP


MASIH MELAWAN ASAP
SEBUAH KERINDUAN UNTUK HIDUP NORMAL
DENGAN UDARA SEGAR DIBAWAH LANGIT BIRU

MASIH MELAWAN ASAP
SEBUAH PERMINTAAN UNTUK TINDAKAN TEGAS
KEPADA PARA PEMBAKAR LAHAN

MASIH MELAWAN ASAP
SEBUAH HARAPAN UNTUK SEGERA DISELESAIKAN
DENGAN KERJA NYATA BUKAN PURA-PURA

MASIH MELAWAN ASAP
SEBUAH KEINGINAN UNTUK BERSATU PADU
BAHU MEMBAHU MELAWAN BENCANA ASAP





#MelawanAsap

Sunday, September 13, 2015

Diktaktor, Aku Bisa Hidup Sendiri

Angin selatan sedang bigung, diungkapkan perasaannya hari ini. 


Hari ini suasana mendung
asap kayu mengepul keatas menambah kelam
hari ini suasana hati sedang gundah
tertekan oleh kondisi kehidupan yang kacau

semua ingin menang sendiri
anti kritik tak ada bicara yang nyambung

harus begini
harus begitu
datang dari semua orang dikehidupanku
seakan aku disini hanyalah makhluk kecil yang tak bisa berpikir

aku bisa tentukan hidupku sendiri
tanpa banyak perintah ini itu
diktaktor kelas kakap
melebihi keras jendral franco di spanyol
Perintah-perintahmu adalah konyol
sampaikan perintah dicampur emosi
parah, siapa yang mau menerima?


Ungkapan yang kacau, sekacau hatinya
Huahaha

Saturday, September 12, 2015

Emha Ainun Najib : Champion Of Life, Cintaku Sekonyong-konyang Koder

Ungkapan perasaan Emha Ainin Nanjib tentang Indonesia



Aku jatuh hati pada Indonesia. Tanah air alunan balada antagonis-protagonis yang harmonis. Tak peduli apakah nenek moyang mereka adalah Ibu Peradaban Dunia ataukah raja dan rakyat dungu yg bisa dijajah ditipu diperdaya oleh sekumpulan satpam VOC.
Biarin apakah mereka berasal usul dari Negeri Atlantis, Sunda Land, atau turunan Nabi Sis ketika darah istrinya dirasuki Iblis. Tidak urusan apakah sejarah manusia Nusantara lebih tua dibandingkan dengan Yunani kuno, Mesir kuno, Inka-Maya, Mesopotamia, sehingga juga jauh lebih tua daripada Ibrahim yang menurunkan Yahudi dan Arab yang kini sedang menguasai dunia.
EGP, apakah mereka sedang dilanda epidemi peracunan otak dua millenium, penipuan global yang berlangsung sejak lahirnya Isa Al-Masih, dilanjutkan 37 sesudah penyaliban beliau, serta disempurnakan tiga abad silam sesudah Revolusi Industri.
Pertengseng apakah benar "kasepuhan" nenek moyang Nusantara ini sengaja dikubur disembunyikan oleh pemenang sejarah dunia modern. Nggak patheken juga apa mbah-mbah buyut mereka dahulu kala merupakan perintis "10 pilar peradaban" biangnya peradaban pertanian bumi dan kemaritiman laut, bikin password pemindah hujan, penyusun awan, dan penolak rudal, impor logam dari Mars dan Neptunus untuk bikin keris, teknologi penerbangan frontal anti-gravitasi, penemu bahan adiksi-adiksi dari antara gunung berapi dg laut selatan, 41 level santet, yg anak-cucunya rindu trap-trap  sawah pegunungan hingga bikin piramid. Atau apapun saja.
Juga biarkan saja apakah Maha (Perdana) Menteri Gadjah Mada dengan ideologi ambeng-nya jauh lebih demokratis dibandingkan dengan "tumpeng" NKRI yang berlagak demokrasi tapi rakyatnya tak punya daya kontrol apa pun terhadap tipu daya nasional para pemimpinnya. Pun tak usah disesali kenapa Majapahit bikin bangunan keraton dari kayu, sehingga hancur luluh tenggelam oleh luapan lumpur Canggu antara Sidoarjo dan Mojokerto.
Go to hell with simpang siur sejarah. Wali Songo pun skrg semakin digugat-gugat eksistensi historisnya, karena "iman" metodologis-historis kita tidak kepada babad, legenda, folklore, atau dongeng. Toh, sekarang para EO menyibukkan masyarakat untuk menziarahi Wali Sepuluh: Wali Sembilan plus Gus Dur, sementara Hadlratus-Syaikh Hasyim Asy'ari kakek beliau dan Kiai Wahid Hasyim bapak beliau sedang dipertimbangkan apakah termasuk wali atau bukan. Bahkan biro-biro travel sudah melantik Wali Songo Jawa Timur. Jadi Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, tdk termasuk. Dicari wali-wali lain di lingkup Jawa Timur untuk disembilan-sembilankan.
Aku jatuh hati kepada Indonesia. Sebagian rakyatnya yang tidak bobrok berpendapat, Indonesia sedang bobrok-bobroknya. Kenyataannya tidaklah bobrok, karena kebobrokan tidak mengerti kebobrokan, kegelapan tidak menyebut dirinya kegelapan. Para penganut aliran kebobrokan berteriak cemas: "Bangsa Indonesia harus bangkit!" Sementara itu, yang paling bobrok berpikir sebaliknya: "Kita sudah bangkit, bahkan sedang menikmati ninabobo dunia internasional yang menganugerahi kita 'Award of Kebangkitan'."
Di fajar hari, ibu-ibu sudah siap di pasar ketika presiden masih tidur. Ada yang berfilsafat: rakyat yang baik adalah yang rajin salat subuh, yang produktivitasnya dimulai sejak sangat dini. Tapi ada yang memelesetkan: subuh itu berwarna hijau, karena subuh adalah Islam. Presiden dan pemerintah jangan rajin salat subuh, supaya wajahnya tak jadi hijau, seperti tahun-tahun terakhir Soeharto. Dunia tidak suka Indonesia berwarna hijau dan pakai peci. Untuk Indonesia, Islam mesti hijau lapuk, pemeluknya harus bodoh, kumuh, brutal, dan nutrisi rendah.
Meskipun demikian, tampil modern dan mewah boleh juga, asalkan hipokrit dan permisif. Terserah. Yang pasti, jangan suruh rakyat Indonesia bangkit. Mereka tiap hari sudah bangkit, karena tiap hari jatuh. Kejatuhan adalah parameter utama rakyat dalam mengukur setiap pemerintahan yang menimpakan kepada mereka musibah-musibah. Seberapa kadar kejatuhan rakyat pada penguasa yang ini, yang itu, di zaman kerajaan maupun republik.
Rakyat Indonesia adalah pakar kejatuhan, maka juga Pendekar Kebangkitan, yang mampu bangkit meskipun tanpa kebangkitan. Maka bernama bangsa garuda, meskipun ada yang mengejeknya sebagai bangsa emprit. Tak apa. Emprit jasadnya, garuda jiwanya. Garuda memperoleh kelahiran kedua pada usia sekitar 40 tahun dengan terlebih dulu melakukan penghancuran atas paruh dan kuku-kukunya,yang kemudian, bagi yang lulus: tumbuh paruh sejati dan kuku sejati. Sebagaimana garuda terbang ke gunung-gunung batu untuk mematuki dan mencengkeram batu-batu itu sampai paruh dan kukunya tanggal --bangsa Indonesia hari ini juga sedang riang-riangnya menghancurkan paruh dan kukunya sendiri. Garuda bangkit dan terbang, dengan 17 helai sayap dan 8 helai ekor, angka hari kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Andaikanpun Indonesia merdeka pada tanggal 1 bulan 1, ia tetap jagoan dan sanggup terbang dengan sayap sehelai.Bangsa tertangguh di muka bumi ini, sanggup bergembira dalam derita, mampu melangkah pasti di jalan ketidakpastian, ringan tertawa di kurungan rasa bingung dan sengsara.
Aku tergila-gila pada Indonesia. Bangsa yang juara atas hidupnya sendiri. Warga negara miskin antre naik haji menunggu 10 tahun lebih, tanpa pernah menawar berapa pun biayanya. Bahkan membayar di muka, tanpa peduli ke mana bunganya.
Di Tanah Suci, mereka sowan kepada Kanjeng Nabi dan mendengarkan petuah menantu beliau si penjaga pintu ilmu Sayyid Ali bin Abi Thalib: ''Wahai bangsa Indonesia, jangan katakan kepada Tuhan bahwa kalian punya masalah, tetapi nyatakan kepada masalah bahwa kamu punya Tuhan." Bangsa Indonesia punya banyak senjata untuk melawan kejatuhan dan siaga menyelenggarakan kebangkitan.
Mereka menantang kehidupan yang tidak rasional dan penuh kemustahilan dengan "bismillah".  Atas nafkah tidak mencukupi mereka bilang "tawakal". Didera keadaan serba-kekurangan terus-menerus mereka ladeni dengan "tirakat" dan keyakinan bahwa ''ayam saja dikasih rezeki oleh Allah''. Ditipu habis oleh penguasa, cukup mereka tepis dengan ''Tuhan tidak tidur''. Usaha gagal, dagang bangkrut, mereka layani dengan "istiqamah" dan "jihad fisabilillah".
Besok belum tentu makan, apalagi bayar kontrakan rumah dan terlebih-lebih lagi membiayai anak sekolah tidak membuat mereka putus asa, karena di dalam dada mereka ada "nekat". Mereka adalah champion of life. Jagoan dalam mengalahkan segala jenis kesusahan hidup. Juara penderitaan. Sanggup membangun kegembiraan dalam kesengsaraan. Petarung kesulitan. Pendobrak kemustahilan. Tertawa dalam kehancuran.

Pandai dalam kebodohan. Tidak mengenal lelah untuk terus-menerus ditipu, dibohongi, diperdaya, dan ditindas. Di negara Pancasila, mereka sangat percaya kepada Tuhan, tetapi sangat toleran kepada berhala-berhala. Di berbagai kegiatan hidup, dari keagamaan, politik, dan budaya, mereka bahkan cenderung eksploitatif terhadap berhala-berhala.
Sangat gemar bermain berhala, mengambil apa dan siapa saja sekenanya untuk diberhalakan, dipresidenkan, digubernurkan, di-Gus-kan. Esok paginya berhala itu dibuang, ganti berhala baru. Para champion of life sangat percaya diri, sehingga semau-mau mereka ambil berhala, pura-pura menyembahnya, mengaturnya, mempergilirkannya.
Rasa sayangku pontang-panting kepada Indonesia. Bangsa yang tidak menuntut kepemimpinan kepada para pemimpin. Tidak menuntut komitmen kerakyatan kepada petugas pemerintahan yang mereka upah. Tdk menagih kesejahteraan kpd pengelola tanah airnya, bahkan menyedekahkan kekayaan kepada kepala negara kepala  pemerintahan dan seluruh jajarannya.
Tidak mempersyaratkan keterwakilan kepada para wakilnya. Lahap mengunyah disinformasi yang dipasok oleh para petugas informasi. Bangsa yang tidak mengenal kehancuran. Sebab memang tidak berjarak dari kehancuran. Juga karena dalam stuktur kejiwaan mereka: antara kehancuran dan kejayaan, antara riang dengan sedih, antara maju dengan mundur, hebat dengan konyol, mulia dengan hina, pandai dengan bodoh, surga dan neraka, pada alam mental rakyat Indonesia --itu semua sama sekali bukan polarisasi, tdk bersifat dikotomis, tak berhulu-hilir, hulunya adalah juga hilirnya, hilirnya adalah jg hulunya.
Tak ada garis lurus interval. Kedua dimensi nilai-nilai itu berada dalam bulatan yang bersambung, yang kalau dipandang dari jarak tertentu: ia adalah sebuah titik. Rakyat Indonesia tidak tertindas oleh ketidakmenentuan dalam kehidupan bernegara. Republik ayo, kerajaan monggo.  Presidensial silakan, parlementer tak apa. Kalau pengurus negerinya mengabdi kepada mereka, ya, tidak dipuji. Kalau mengabdinya kepada diri penguasa sendiri, ya, dibiarkan. Kalau tidak mengabdi malah menganiaya, ya, dikutuk beberapa saat saja.
Mereka tidak terikat untuk mengingat apa yang harus diingat atau melupakan sesuatu yang harus dilupakan. Juga tidak tertekan untuk harus tahu dan mengerti sesuatu. Mau ingat apa, mau lupa apa, mau ngerti apa, terserah-serah kepentingan mereka saat itu. Sebab akurasi energi psikologis mereka mengarah ke kebahagiaan diri: ingat, lupa, dan mengerti bisa menjadi tembok penghalang utama yang membuat mereka tidak mencapai kebahagiaan secara pragmatis dan permisif.
Bahkan antara ingat dan lupa, antara ngerti dengan tidak ngerti, bisa diracik oleh jiwa manusia Indonesia menjadi sebuah kesatuan yang dibikin relatif. Kapan butuh ingat, dia ingat. Kalau yang menguntungkan adalah lupa, mereka pun lupa. Jangankan tentang isi dunia, sejarah, negara, pemerintah, penggadaian kekayaan tanah air, korupsi, dan perampokan oleh luar maupun dalam negeri: sedangkan terhadap surga sesungguhnya mereka tidak rindu-rindu amat, dan terhadap neraka mereka tidak benar-benar ngeri.
Cintaku kepadamu sekonyong-koder, Indonesia.

Inspirasi: 
1

2 Bangzul_pni

Monday, September 7, 2015

#11TahunMunir #MenolakLupa Kami Masih Mengingatnya




Duka masih belum terselesaikan. 

Kenangan masih mengalir dalam aliran darah. 


Semua takkan pernah terang jika kita hanya diam.

.
.
Perjuangan kita adalah usaha melawan ketakutan.


Melawan usaha untuk melupakan.




Semuanya masih kami ingat karena belum terselesaikan.
.
07092015


‪#‎MenolakLupa‬ 

11 Tahun Menolak Lupa: Munir Yang Belum Terselesaikan



Atas nama kebenaran kami menolak Lupa.
Sesungguhnya telah mati bagi  mereka yang tak berani  bersuara.
Kebenaran akan selalu bernyawa.
Menghidupkan keberanian dalam jiwa.

Kami menolak lupa untukmu yang mungkin mati diudara.
Semua harus terungkapkan.
Semua harus tertuntaskan.
Karena kejahatan tak boleh tertingal.

Kami menolak lupa untukmu yang mengajari peduli
Suara kebenaran akan terus terteriakan
Memburu pembunuh yang bersembunyi dalam sunyi
Kesadaran kami akan menyeret mereka  dalam  keadilan.

11 tahun
Kau meninggalkan keberanian
Tanpa peduli resiko mati
Munir namamu sudah 11 tahun  didalam kebisuan
Terbungkam oleh mulut-mulut kemunafikan

Munir kebenaranmu masih diperjuangkan
Kau adalah kebenaran yang disembunyikan
Kami mengenangmu masih engan pertanyaan yang sama???



 #11TahunMunir #MenolakLupa